Selasa, 23 Juni 2015

KIKI’S DELIVERY SERVICE [1989]


Semua karya Studio Ghibli tidak pernah lepas dari yang namanya fantasi dan dunia anak. Dua hal tersebut seolah merupakan ‘kewajiban’ yang selalu ada. Diadaptasi dari novel tahun 1985 karya Eiko Kadono, Kiki’s Delivery Service banyak mengingatkan saya pada Spirited Away (2001), karena film ini juga menggambarkan tentang kemandirian seorang anak serta masa transisinya menuju remaja. Tidak lupa pastinya juga mengandung pesan moral yang baik dan alur ceritanya banyak membuat penonton untuk menciptakan interpretasi yang luas.

Seorang gadis penyihir usia 13 tahun bernama Kiki (Minami Takayama) memutuskan untuk mengembara dalam upayanya untuk menjadi pribadi yang mandiri dan mencari banyak pengalaman. Sudah menjadi tradisi bagi penyihir untuk melakukan hal tersebut di usia yang masih muda. Setelah mendapat restu orangtuanya, berangkatlah Kiki dengan sapu terbang dari ibunya dan ditemani kucing hitamnya, Jiji (Rei Sakuma), yang dapat ia ajak bicara. Dalam pengembaraannya, ia berusaha mencari kota di dekat laut untuk menetap. 

Banyak kesulitan yang Kiki alami selama proses pencarian tempat tinggal di kota. Bahkan, ia sempat terkena tilang oleh polisi. Untungnya, ia berhasil ditolong oleh seorang anak laki-laki yang seumuran dengannya, Tombo (Kappei Yamaguchi). Tombo sangat terkesan dengan kemampuan terbang Kiki, meski Kiki sangat ketus sekali dalam menanggapi keberadaan Tombo. Setelah membantu Osono (Keiko Toda) si pemiliki toko roti Gutiokipan, Kiki diizinkan untuk tinggal di rumahnya. Tidak ingin diam saja, Kiki lantas menawarkan diri untuk membantu Osono dalam mengantarkan pesanan roti. Berbekal kemampuan terbangnya, Kiki kemudian menjadikannya sebagai pekerjaan.  

Di usianya yang menginjak 13 tahun, Kiki sudah dituntut untuk mandiri. Semua itu tidak lain merupakan langkah awalnya sebelum menginjak masa remaja. Di kota bergaya Eropa inilah, Kiki melatih kemandirian dan pencarian pengalaman hidup yang lebih banyak. Seperti siswa yang sedang magang, para penyihir di usia tersebut diwajibkan untuk homestay dengan mencari rumah di sebuah kota, hitung-hitung membantu sang pemilik sebagai tambahan pengalaman. Di film ini, sosok seorang penyihir memang membuat orang biasa takjub dan terkadang juga membuatnya diacuhkan. Meski rasa ketakjuban ada, tapi setiap orang yang melihat Kiki (sebagai penyihir), tidaklah sampai terkejut secara berlebihan. Yang tidak kalah lucunya, Kiki sempat ditilang oleh polisi, meskipun si polisi juga tahu bahwa gadis dengan sebatang sapu yang ia tilang bukanlah gadis biasa. 

Tidak hanya kemandirian Kiki saja yang coba diangkat Hayao Miyazaki di sini, melainkan juga masa transisinya menuju remaja dengan menempatkan karakter Tombo sebagai pengukurnya. Awalnya, Kiki memang ketus sekali tiap Tombo mengajaknya bicara. Bukan karena benci, tidak lain hal tersebut merupakan perasaan malu yang lumrah ada pada anak di usia tersebut ketika sedang menghadapi lawan jenisnya. Apalagi, ini adalah pengalaman pertama Kiki jauh dari rumah dan bertemu dengan anak laki-laki seumurannya merupakan hal yang masih baru baginya. Bahkan sempat pula ditampilkan Kiki yang cemburu ketika Tombo bersama dengan teman-teman perempuannya. Semua itu tidak lain merupakan fase perubahan Kiki dari yang awalnya anak-anak, kemudian menjadi seorang remaja.

Dalam Kiki’s Delivery Service ini, ada pula momen desperate yang dihadirkan, yaitu ketika Kiki kehilangan kekuatan terbangnya dan ia juga tidak lagi mampu berbicara dengan Jiji. Saya memiliki interpretasi terkait bagian ini. Sebenarnya, bagian ini pun masih bercerita mengenai transisi Kiki dari anak-anak menuju remaja. Kekuatan magis Kiki dapat diinterpretasikan sebagai bagian dari fantasi / imajinasi dalam kehidupan seorang anak. Dengan Kiki kehilangan kekuatan magisnya, maka itu merupakan titik balik Kiki menuju fase remaja, karena sebagian besar anak remaja cenderung mulai jarang berfantasi layaknya anak-anak. Ingat, bahwa setiap film-film dari Studio Ghibli selalu menekankan unsur fantasi / imajinasi yang merupakan bagian dari kehidupan anak-anak, dan hal tersebut begitu kental terasa di bagian ini. Fantasi / imajinasi merupakan batasan atau pemisah antara fase ‘anak-anak’ dengan ‘remaja’. 

Jika saya perhatikan lebih detail, semua penyihir yang ditampilkan dalam film ini hanyalah penyihir wanita saja (witch). Bukti yang memperkuat adalah tentunya dengan keberadaan ibu Kiki yang seorang penyihir dan gadis penyihir yang ditemui Kiki saat perjalanan ke kota. Sedangkan ayah Kiki, saya meyakini bahwa ia hanyalah seorang manusia biasa. Dengan begitu, hubungan antara Kiki dan Tombo yang semakin erat dapat mengindikasikan bahwa kelak Kiki akan mengulangi hal yang sama seperti pada orangtuanya, yaitu pernikahan antara penyihir dengan manusia biasa. Cerita memang tidak sampai di situ, tapi saya mencoba untuk membuat interpretasi sendiri ke arah depan.   

Pesan moral yang ingin disampaikan oleh Hayao Miyazaki di sini tidak lain berhubungan dengan kemandirian dan pengalaman yang harus dicari oleh setiap anak. Dengan mencari pengalaman, maka akan didapatlah teman atau tempat-tempat baru untuk dikunjungi, jadi tidak hanya stuck saja dengan keadaan yang ada. Untuk masalah kemandirian, saya tidak berfikir bahwa kemandirian di usia anak-anak haruslah dengan bekerja, melainkan cukup dengan membantu meringankan pekerjaan orangtua di rumah. Pola pikir kemandirian masyarakat di Jepang dan Indonesia sebenarnya cukup berbeda, di mana anak-anak Jepang di usia muda banyak yang mengisi waktunya dengan kerja sambilan atau disebut arubaito. Tentu saja ‘kemandirian’ yang disampaikan dalam Kiki’s Delivery Service ini jauh lebih sesuai dengan pola pikir masyarakat Jepang. Saya tidak bermaksud mengkomparasikan keduanya, karena keduanya memiliki pola pikir yang completely berbeda dan fair saja menurut saya.

Overall, Kiki’s Delivery Service adalah sajian yang sangat luar biasa bagus, penuh pesan moral, dan didukung pula visual indah yang memanjakan mata. Kembali lagi Hayao Miyazaki merebut hati dengan ide-ide brilliant-nya yang ia tumpahkan pada petulangan gadis penyihir yang penuh fantasi ini.

ATAU
9 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !