Sabtu, 20 Juni 2015

THE NIGHTMARE BEFORE CHRISTMAS [1993]

Beetlejuice (1989), Corpse Bride (2005), Coraline (2009), Sweeney Todd (2007), Alice in Wonderland (2010), Frankenweenie (2012), semua film animasi stop-motion dan non-animasi yang lahir dari tangan Tim Burton ini selalu memiliki ciri khas creepy, quirky, dan gloomy. Bahkan, Batman (1989 & 1992) pun memiliki suasana horror yang kental ketika mendapat sentuhan dari Tim Burton. Meski tidak duduk di posisi sutradara, The Nightmare Before Christmas yang begitu populer dan memorable ini tetap memiliki ciri khas ala Tim Burton dan bisa dibilang sebagai titik awal untuk film animasi ­stop-motion buatannya yang akan lahir berikutnya.

Di suatu negeri yang disebut Halloween Town, semua warganya yang terdiri dari para hantu, vampire, dracula, werewolf, hingga witch, dengan senang hati selalu merayakan Halloween (sesuai namanya) dengan menakut-nakuti menggunakan wujud mereka yang menyeramkan. Dari semua warga Halloween Town, adalah Jack Skellington (Chris Sarandon) yang diakui paling menakutkan, serta dipuji dan dihormati oleh semua warga Halloween Town. Tapi rupanya, Jack mulai merasakan kebosanan dengan Halloween yang selalu dirayakan tiap tahunnya. Suatu malam, Jack yang memiliki bentuk tengkorak ini memilih berjalan ke hutan dengan ditemani anjing hantunya yang bernama Zero. 

Di dalam hutan ia menemukan beberapa pohon dengan simbol yang mewakili hari libur di masing-masingnya, seperti Valentines Day, St. Patricks Day, Thanksgiving, Easter, Independence Day, Christmas, dan tentunya tidak lupa Halloween. Jack kemudian memasuki pohon dengan simbol pohon cemara (christmas) dan ia pun terlempar menuju Christmas Town. Jack begitu terkagum-kagum dengan perayaan yang diadakan di Christmas Town. Ia merasakan bahagia, meski tidak tahu bagaimana menerangkannya. Sekembalinya ke Halloween Town, Jack berencana untuk merencanakan perayaan yang ada di Christmas Town dan menculik Sandy Claws / Santa Claus (Ed Ivory).    

Dua kota yang menjadi setting di sini digambarkan dengan begitu kontras, Halloween Town begitu gelap, suram, dan mencekam, berikut para makhluk creepy yang menghuninya, sedangkan Christmas Town sangat cerah, colourful, dan terlihat penuh sekali dengan kebahagiaan. Meski begitu keduanya tetap hidup berdampingan dengan segala perbedaan yang dimiliki. Hingga pada akhirnya, rasa bosan Jack mengacaukan segalanya dengan menculik Santa Claus. Jika ditilik lebih dalam lagi, apa yang dilakukan Jack sebenarnya adalah murni sebuah ‘kenakalan’ kecil yang tercipta dari lingkungan yang memang suka dengan hal-hal yang bersifat kejahilan dan keusilan, karena hal itu merupakan bagian dari Halloween.

The Nightmare Before Christmas disajikan dengan musikal dan hanya berlangsung dengan durasi selama 76 menit. Untuk ukuran tahun tersebut, film ini bisa disebut telah melampau masanya. Proses pembuatan selama 3 tahun, merupakan bukti dari kerja keras dalam pembuatan film stop-motion yang begitu rumit. Sebagai contoh, karakter Jack Skellington saja menggunakan 400 ekspresi wajah yang berbeda. Itu baru satu karakter, belum karakter-karakter yang lain. Tentunya, ada ribuan mini-figure yang digunakan selama pembuatan film ini. Pergerakan  frame per second-nya juga sangat halus sekali, maka tidak salah bila waktu yang digunakan dalam pembuatan juga sangat lama.

The Nightmare Before Christmas ini sering disebut sebagai sleeper hit, atau film yang begitu terkenal dengan kurun waktu yang sangat lama. Hal tersebut sepertinya memang benar adanya. Lihat saja karakter Jack Skellington yang begitu memorable dan lovable ini, ia selalu muncul di berbagai macam aksesoris atau mainan yang dijual di banyak tempat. Apalagi, film ini juga merupakan simbol dari Halloween dan Christmas yang merupakan hari libur besar. Film ini kabarnya sempat akan dibuat sekuelnya pada tahun 2001 dengan lebih banyak menggunakan animasi komputer daripada stop-motion. Tapi kemudian Tim Burton menolaknya dengan alasan ‘kemurnian’ cerita dan pengemasannya yang harus menggunakan stop-motion. Saya sangat salut atas keputusan Tim Burton tersebut, karena bagi saya sendiri sekuel merupakan bentuk pengkhianatan dari sebuah karya. 

Jujur saja, saya sebenarnya bukan tipikal penyuka film-film musikal, kecuali Les Misérables (2012) yang sejauh ini sangat saya sukai. Bahkan, saya sempat boring di beberapa momen musikal yang tersaji di film ini. Tapi untuk alur ceritanya secara keseluruhan, menurut saya cukup bagus meski minus momen lucunya. Ada pesan moral yang saya tangkap dari film ini mengenai perasaan untuk menjadi diri sendiri. Jack Skellington yang bosan dengan Halloween, mencoba menculik Santa Claus dan memainkan perannya untuk membagikan hadiah pada Christmas Eve. Sebelumnya, ia juga sudah diingatkan oleh temannya, Sally (Catherine O’hara) bahwa dirinya bukanlah pribadi yang selama ini ia kenal. Akibatnya, Jack malah mendapatkan kesulitan akibat rencananya tersebut. Kemudian iapun menyadari betapa pentingnya menjadi diri sendiri dengan kembali ke penampilan sebelumnya dan tetap merayakan Halloween.

Saya rasa sesederhana inilah film ini bercerita. Meski sederhana, tapi pesan moral yang disampaikan cukup mengena. Mungkin bukan favorit saya, tapi The Nightmare Before Christmas sudah dalam pencapaian sebagai film animasi yang begitu populer, timeless, memorable, dan begitu dikenal masyarakat luas. Overall, The Nightmare Before Christmas cukup menghibur dengan desain karakternya yang bagus dan unik, serta olah geraknya dengan musik yang begitu menyatu dan tersaji dengan luar biasa. Sajian yang sangat pas untuk menemani waktu senggang di hari libur.
ATAU
7 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !