Selasa, 16 Juni 2015

THE BICYCLE THIEF [1948]

**FILM SUPER**

The Bicycle Thief sering disebut-sebut sebagai salah satu mahakarya film Itali beraliran neorealism. Neorealism (sering disebut sebagai Golden Age bagi perfilman Itali), merupakan aliran dalam film yang mengedepankan cerita tentang kemiskinan dan kaum pekerja serta menggunakan jasa aktor non-profesional. Film ini juga banyak mendapat penghargaan, salah satunya adalah Academy Honorary Award di tahun 1950. Meski film ini berjudul tentang “pencuri sepeda”, tapi fokus utamanya sendiri mengenai seorang pria yang menjadi korban pencurian sepeda. Kisahnya begitu menyentuh dan memberikan kesan yang sangat mendalam bagi siapapun yang menontonnya. Apalagi, kedekatan hubungan antara ayah-anak sangat ditekankan di sini. Faktor tersebutlah yang menjadikan film klasik ini sangat wajib untuk ditonton.

Masa menganggur telah usai bagi Antonio Ricci (Lamberto Maggiorani), karena ia mendapatkan pekerjaan sebagai penempel poster dengan gaji yang lumayan pula. Tapi, ia bisa mendapatkan pekerjaan tersebut dengan syarat harus memiliki sepeda. Awalnya ia memiliki satu sepeda, tapi kemudian ia gadaikan untuk makan sehari-hari. Antonio hidup serba kekurangan, tinggal di apartemen sempit bersama istrinya, Maria (Lianella Carell) serta anaknya pertamanya, Bruno (Enzo Staiola) dan anak keduanya yang masih bayi. Istrinya kemudian menjual semua seprai agar Antonio bisa membeli sepeda. Akhirnya, sepeda merek Fide model tahun 1935 pun terbeli.  

Naas beribu naas. Hari pertama kerja, Antonio kehilangan sepedanya ketika sedang menempel poster. Upaya pengejaran telah dilakukan meski tanpa hasil. Pihak kepolisian tempat ia melapor pun seolah tutup mata dengan apa yang dialami Antonio. Merasa kesulitan, Antonio pun meminta bantuan sahabatnya, Baiocchi (Gino Saltamerenda). Pencarian pertama mereka adalah di pasar loak sepeda bernama Piazza Vittorio, karena kemungkinan besar si pencuri sepeda telah menjualnya ke sana. Meski sudah mencarinya, tapi hasilnya tetaplah nihil. Atas saran Baiocchi, pergilah Antonio bersama Bruno menuju pasar loak lainnya, Porta Portese. Di sanalah, Antonio melihat sepedanya lengkap bersama si pencuri. Berhasilkah Antonio dan Bruno mendapatkan kembali sepedanya ?

The Bicycle Thief adalah film yang penuh tragedi. Tragedi seorang pria desperate yang sepedanya dicuri, padahal hidupnya dan keluarganya ia gantungkan pada sepeda tersebut. Parahnya lagi, itu terjadi di hari pertama kerja. Gaji lengkap dengan bonus dan uang lembur, semua lenyap dari angan-angan Antonio. Saya acungi jempol kehebatan Vittorio de Sica yang menjadikan depresi ekonomi pasca Perang Dunia II (terjadi saat pembuatan filmnya) sebagai bahan yang menarik untuk diangkat ke dalam film karyanya ini. Selain itu, Vittorio de Sica juga luar biasa dalam mengarahkan Lamberto Maggiorani yang notabene bukan seorang aktor profesional (saat itu ia seorang pekerja pabrik), mampu bermain dengan sangat bagus dan natural sebagai pria lugu nan malang bernama Antonio Ricci ini. Memang, dibutuhkankanlah orang-orang yang benar-benar tahu rasanya menjadi orang susah sebagai pekerja kasar, maka dari itu Lamberto Maggiorani sangat pas memainkan peran tersebut. Di situlah, letak kejeniusan sang sutradara, Vittorio de Sica.    

Antonio adalah contoh dari potret warga miskin Itali yang jauh dari perhatian orang-orang sekitarnya. Lihatlah ketika ia berteriak kehilangan sepeda, seakan-akan orang di sekitarnya tidak mau tahu. Polisi pun juga begitu, terlalu memandang rendah mereka yang dari golongan bawah dan enggan untuk membantu. Apalagi, benda yang hilang berupa sepeda hanya dianggap remeh. Saking miskinnya, Antonio tidak mampu untuk menyekolahkan Bruno, di mana anak-anak seusia Bruno semestinya masih senang-senangnya menikmati bangku sekolah. Tapi ia lebih memilih bekerja demi membantu beban berat orang tuanya, apalagi ia juga memiliki adik yang masih bayi. Dengan kehilangan sepeda itu, maka keluarga Ricci bagaikan tersambar petir menghadapi kenyataan itu.  

Segala rasa bercampur menjadi satu dalam film yang diangkat dari novel karya Luigo Bartolini ini. Senang, saat saya melihat Antonio mendapat pekerjaan dan sepeda. Sedih, saat Antonio kehilangan sepeda. Haru, saat melihat perjuangan keras Antonio mendapatkan sepeda demi masa depan keluarganya. Hingga sebal, ketika melihat si pencuri yang bersikukuh tak mau mengaku bahwa telah mencuri sepeda milik Antonio. Kesialan rasanya bertubi-tubi menimpa Antonio, tatkala tidak ada satu orang pun yang membantunya dalam menangkap si pencuri. Kebanyakan dari mereka acuh tak acuh dan bahkan malah membela si pencuri. Dari segala kesedihan, kemalangan, kesialan, keputusasaan, kepahitan, dan apapun penyebutannya, Vittorio de Sica rupanya tidak lupa menyelipkan sedikit momen lucu untuk memberikan penyeimbang dalam film ini. Lihat saja ketika Antonio dan Bruno mengejar kakek-kakek yang mengenal si pencuri dalam gereja, Bruno diam-diam membuka bilik pengakuan dosa dan malah dipukul oleh sang pendeta. Bagian itu sangat lucu sekali, kepolosan Bruno dalam membantu ayahnya rupanya malah dihadiahi pukulan.  

Dalam The Bicycle Thief ini, ditampilkan pula adegan dimana seorang peramal wanita yang memiliki banyak sekali pengikutnya untuk bertanya segala perihal masalah dalam kehidupan. Bahkan, Antonio pun sempat berkunjung ke sana untuk menanyakan lokasi sepedanya yang hilang. Bukan tanpa alasan mengapa Vittorio de Sica menampilkan sosok peramal di sini, selain untuk menegaskan bahwa kemiskinan warga Itali yang sudah tingkat ‘stadium akhir’ ini membuat mereka sudah melupakan nalarnya dalam menghadapi peliknya kehidupan, dan memilih datang ke peramal sebagai jalan keluar satu-satunya. Sebelumnya, Maria juga sempat datang ke peramal tersebut untuk bertanya mengenai apakah Antonio akan dapat pekerjaan dalam waktu dekat.

Kakek-kakek yang dikejar Antonio dan Bruno dalam gereja itu mungkin saja juga pencuri. Tapi pertanyaannya adalah, mengapa seorang pencuri mau rajin datang ke gereja ?. Jawabannya tidak lain adalah bukan karena beribadah, melainkan hanya ingin mendapatkan makan gratis. Nah, kembali lagi bahwa kemiskinan yang telah menggerogoti warga Itali pasca PD II, kembali lagi diangkat dalam film ini. Bagi sang pencuri, adakah alasan lain bagi ia untuk mencuri, selain memang untuk membeli makan ?. Mungkin kita akan bersimpati sangat dalam kepada Antonio yang kehilangan sepeda, dan begitu membencinya si pencuri sepeda. Tapi tanpa kita sadari, kehidupan mereka berdua sama saja, sama-sama korban kemiskinan. Tentu saja, perbuatan mencuri memang tidak dibenarkan. Hingga akhirnya, Antonio sendiri kehilangan arah dan mencoba mencuri sepeda sebagai ganti dari sepedanya yang hilang. Lalu, judul The Bicycle Thief ini seharusnya ditujukan untuk siapa, Antonio atau si pencuri sepeda milik Antonio? 

ATAU
10 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !