Jumat, 26 Juni 2015

PK [2014]

Ini adalah kali kedua kolaborasi Aamir Khan dengan sutradara Rajkumar Hirani yang sebelumnya sukses lewat 3 Idiots (2009). PK adalah komedi satir yang memiliki komposisi yang lebih berat dari 3 Idiots serta menyinggung permasalahan yang sensitif, yaitu ajaran agama dan pencarian akan ketuhanan. Seperti halnya 3 Idiots, Rajkumar Hirani membawakan PK dengan cukup ringan tapi mengena, tanpa perlu membawakan teori-teori yang memusingkan mengenai konsep ketuhanan dan dogma. Tentu yang tidak kalah mengejutkannya adalah kemunculan Sanjay Dutt yang kontroversial di bagian supporting roles (bagian ini Anda bisa mencari tahu sendiri).

Alien humanoid (Aamir Khan) mendarat di Kota Rajasthan dengan tujuan meneliti tentang kehidupan manusia. Tapi naasnya, remote control-nya yang berwujud kalung malah dicuri oleh penduduk setempat. Remote control tersebut tidak lain merupakan alat komunikasi untuk memanggil pesawat luar angkasanya agar dapat kembali pulang. Melalui bantuan orang-orang sekitar, alien tersebut diminta untuk memohon kepada Tuhan agar dapat menemukan remote control-nya. Berbagai macam kekonyolan akibat ketidaktahuannya ia alami saat proses pencarian tersebut, karena ia melibatkan berbagai macam agama, hingga orang-orang memanggilnya Peekay (PK) yang artinya orang mabuk.

Cerita berpindah di Bruges, Belgia. Seorang gadis India bernama Jaggu (Anushka Sharma) jatuh cinta pada pemuda muslim dari Pakistan, Sarfaraz (Sushant Singh Rajput). Ayah Jaggu (Parikshit Sahni) tidak menyetujui hubungan mereka dan memohon pada guru spiritualnya, Tapasvi Maharaj (Saurabh Shukla) agar memisahkan mereka berdua. Masalah pun datang antara Jaggu dan Sarfaraz, sehingga membuat Jaggu pulang kembali ke India. Jaggu yang seorang jurnalis TV kemudian bertemu PK dan mereka berdua pun menjadi akrab. Bahkan, Jaggu pun bersedia membantu PK dalam upaya pencarian remote control itu. Petualangan mereka berdua yang penuh kekocakan pun dimulai.
Saya awalnya tidak menyangka jika film ini akan membawa tema yang sensitif untuk diangkat. Bagaimana tidak, Aamir Khan berperan sebagai alien yang mendarat di bumi dalam keadaan ‘telanjang’, mengisyaratkan bahwa ini adalah film komedi yang super konyol, meskipun tidaklah bodoh. Narasi berpindah pada hubungan percintaan Jaggu dan Sarfaraz, timbul pertanyaan akankah “PK” bercerita tentang cinta segitiga (dengan alien) yang dibalut komedi ?. Kemudian, mengerucut menjadi lebih serius ketika masalah perbedaan agama ikut dibawa dalam hubungan cinta dua insan muda ini. Rajkumar Hirani ternyata masih belum membuka lebar kemana arah film ini, sampai pertemuan Jaggu dengan PK serta masalah remote control yang menghubungkannya dengan pencarian Tuhan. Tabir misteri semakin jelas, Rajkumar Hirani ternyata membuat komedi satir dengan sosok alien yang mencari Tuhan, tapi ia sendiri kebingungan dengan Tuhan mana yang harusnya dicari ?. Sedangkan setiap orang menyembah Tuhan dengan wujud yang berbeda-beda.

Sebelum saya membahas mengenai alien PK yang menyentil setiap agama, saya ingin memberi tahu bahwa film ini penuh dengan metafora di dalamnya. Bagian pertama dari kedatangan alien PK dengan telanjang dan tanpa berbicara, menunjukkan bahwa ia bagaikan bayi yang dalam keadaan suci tanpa dosa. PK sendiri mengatakan bahwa bangsanya tidak pernah berbohong karena hanya berkomunikasi melalui sentuhan tangan, dan bukan lewat mulut. Dari sini, PK mencoba menyindir antara bayi yang suci dengan orang dewasa yang banyak melakukan dosa, terutama berbohong. Kemudian PK mulai belajar memakai baju, belajar berbicara, dan belajar untuk mencari Tuhan. PK percaya bahwa Tuhan mampu mengembalikan remote control-nya yang telah dicuri orang. Di bagian ini, PK mencoba menyadarkan pada semuanya bahwa Tuhan itu hadir ketika seseorang merasakan ada harapan, putus asa, dan takut, seperti layaknya PK yang takut kehilangan remote control-nya. Apa yang dialami PK ternyata tidaklah mudah, karena ia temukan ada banyak wujud Tuhan dan berbeda-beda pula cara untuk menyembahnya.     

Akan ada banyak sekali sindiran demi sindiran yang dilontarkan oleh PK kepada setiap agama, termasuk mengenai agama yang dibentuk oleh tampilan luar, sehingga akan dengan mudah mengenali agama seseorang hanya dari penampilannya saja. Tapi saya tidak mungkin akan memasukkan semuanya dalam ulasan yang terbatas ini. Rajkumar Hirani dengan beraninya menyentil agama-agama beserta penganutnya yang selalu mengagungkan agamanya sendiri dan menghina agama lain, dengan menghadirkan sosok PK yang murni (telanjang bagai bayi) sebagai seseorang yang melihat hanya ada satu Tuhan, tanpa harus membedakannya dengan berbagai wujud. 

PK yang berasal dari kata Peekay yang artinya mabuk, juga menjadi sindiran bahwa orang yang mabuk adalah orang yang jujur berkata apa adanya yang bahkan mampu berdebat mengalahkan pemuka agama sekalipun, dalam hal ini digambarkan pada sosok Tapasvi Maharaj yang keblinger. Singkatnya, Rajkumar Hirani ingin mengoreksi apa yang sebelumnya dinilai tabu dan kaku dengan kekonyolan dari karakter yang ia hadirkan, sama seperti Ranchoddas dalam 3 Idiots. Kisah romance juga sempat disinggung di sini meskipun dengan porsi yang bisa dibilang sedikit.   

Salah satu kunci sukses dari PK adalah pada naskah kuat yang ditulis sendiri oleh Rajkumar Hirani dan Abijhat Joshi. Mereka mampu menciptakan karakter yang kuat dan dengan dialog-dialog yang cerdas serta mengena pula. Tidak lupa ia selipkan pula plot twist di bagian klimaksnya yang semakin membawa perasaan haru biru. Jika dipikir lagi, memang ‘lucu’ melihat sosok orang mabuk yang sering dianggap troublemaker, justru berbicara apa adanya mengenai Tuhan dan malah menertawakan pemimpin agama / spiritual. Kritikan yang disampaikan Rajkumar Hirani ini memang jujur, mengena, dan membuat yang menontonnya menjadi berfikir mengapa setiap agama yang berbeda saling membenci dan mencela, padahal memiliki satu Tuhan yang sama, Tuhan yang menciptakan semua. Dari dua film ini, Rajkumar Hirani telah membuktikan kualitasnya sebagai sutradara top Bollywood, dan sangat ditunggu untuk karya-karya terbarunya.
ATAU
8,5 / 10

4 komentar:

  1. Yup, naskah film ini dikemas cukup kuat oleh Hirani untuk mengkritisi tindakan para pemuka-pemuka agama.. Tapi menurut saya, ini juga didukung sama penampilan kedua pemain utamanya yang emang dapet banget buat peranin karakter mereka.

    Btw, Iza link web-nya sudah ditambahkan di website Cinejour ya,,, jangan lupa add kita juga.

    BalasHapus
  2. Terima kasih mas Bavner Donaldo atas kunjungannya.
    Link blog Anda sudah masuk.

    Bicara soal PK, film hampir mirip dgn karya Hirani sebelumnya, 3 Idiot, dia juga mengkritisi hal-hal yang sebelumnya dianggap kaku dan kolot menjadi sebuah hal yg ringan dan dapat direnungkan bersama. ^_^

    BalasHapus
  3. @Iza Thanks... Iya, setuju.. Hirani cukup kreatif ngebuat film kaya "PK" ataupun "3 Idiots."

    BalasHapus
  4. film yang cukup berani membahas 'kerancuan' dalam agama..
    ceritanya jua mengalir dengan santai..

    adakah rekomendasi lain selain PK

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !