Sabtu, 27 Juni 2015

THE LAZARUS EFFECT [2015]

Saya telah membuang waktu berharga selama 83 menit dengan menonton film ini. Berharap mendapat sajian istimewa dengan ‘perkawinan’ dua genre kontras, sci-fi dan horror, yang saya dapat justru adalah sajian yang payah, membosankan, dan mudah ditebak. Harapan saya tidaklah muluk-muluk sebenarnya, cukup film yang ringan, tidak harus berlabel “sangat bagus”, asalkan tidak membosankan. Tapi, The Lazarus Effect telah membuktikan diri sebagai film yang super jauh dari kata “sangat bagus”. Berharap melupakannya ?, tentu!.

Sepasang ilmuwan yang juga menjalin kasih, Frank (Mark Duplass) dan Zoe (Olivia Wilde) membuat percobaan untuk menghidupkan kembali anjing dari kematian. Bersama dengan 2 asistennya, Clay (Evan Peters) dan Niko (Donald Glover) serta Eva (Sarah Bolger) yang bertugas merekam, mereka sukses menghidupkan kembali anjing yang telah mati. Tapi masalahnya, anjing tersebut menjadi liar dan tidak terkontrol. Suatu ketika, insiden terjadi pada laboratorium tempat mereka bekerja, hingga memaksa untuk menghidupkan kembali salah satu dari mereka yang sudah mati.

Ada berapa kira-kira film dengan main character seorang pasangan suami istri / kekasih yang menjadi ilmuwan / peneliti ?. Jawabannya adalah sangat banyak sekali. Ada berapa film tentang eksperimen yang second act-nya berupa kekacauan dan kegagalan dalam eksperimen ?. Jawabannya juga ada sangat banyak, dan sangat klise sekali. Begitulah kiranya yang ada pada film ini. Kesan klise semakin menjadi jadi ketika pasangan ilmuwan tersebut, Frank dan Zoe menunda menikah karena projek yang mereka kerjakan. Masalah pendanaan yang dicabut juga menjadi bagian klise yang ‘wajib’ ada pada film bertemakan projek-eksperimen. Segala unsur klise tersebut ternyata belum cukup untuk mendeskripsikan betapa payahnya film ini. 

Kesalahan yang parah di sini salah satunya adalah menyia-nyiakan cast yang talented, Olivia Wilde dan Evan Peters. Lihat saja Evan Peters yang cool sebagai Quicksilver di X-Men : Days of Future Past (2014), di sini dia tidak lain hanyalah mahasiswa yang berakhir mengenaskan setelah tersedak rokok elektrik. Konyol dan kacangan. Satu hal yang membuat Evan Peters terlihat lucu di sini adalah saat ia mengenakan kaos bergambar The Flash (saingannya) pada salah satu scene (tertawa geli). Lucu tapi juga ironis, saya pernah tidak tertawa di film komedi, tapi mengapa saya justru malah tertawa di film sci-fi horror ini ?. Apa yang saya tertawakan tentu saja bagian fail dari film ini. Parahnya, point of view yang sangat mudah ditebak juga ditampilkan terus menerus, sehingga membuat film arahan David Gelb ini terasa seperti B movie, menyesakkan.

Jika disebut sebagai film ‘sampah’ sebenarnya tidak juga. Dalam beberapa aspek, The Lazarus Effect masih memiliki hal yang patut untuk dimaafkan. Bahkan di bagian mendekati klimaksnya, David Gelb mencoba untuk memberikan sedikit twist, dan cukup ampuh untuk membuat saya betah mengikuti sampai akhir. Apakah itu membuatnya sedikit lebih baik ?. Ya, setidaknya kata ‘sampah’ tidak sampai tersematkan pada film ini. Dahulu saya sering mengatakan pada teman saya bahwa ada beberapa tipikal film yang sangat cocok untuk ditonton ketika insomnia. Contohnya, film-film ringan/kacangan yang tidak perlu banyak menguras otak untuk menontonnya, dapat menyebabkan kebosanan dengan cepat, dan yang terakhir ampuh menciptakan rasa kantuk. The Lazarus Effect bisa dibilang salah satu dari film tersebut.   
    
Sesuai dengan judulnya, The Lazarus Effect bercerita mengenai efek yang diakibatkan setelah dihidupkannya makhluk yang sudah mati melalui sebuah eksperimen yang disebut Lazarus Project. Lazarus diambil dari nama tokoh dalam perjanjian baru yang berhasil dihidupkan kembali oleh Nabi Isa. Tahu apa efek yang dihasilkan dari Lazarus Project ?, yaitu pemaksimalan 90% kemampuan otak. Dengan begitu, makhluk yang dibangkitkan kembali melalui Lazarus Project akan memiliki kemampuan super semacam telekinesis atau dapat membaca pikiran. Apa !? Terdengar seperti Lucy (2014) ?, atau memang David Gelb, berencana membuat copycat-nya untuk mengulangi kekonyolan dari Lucy ?. Saran dari saya, mengapa tidak sekalian saja meng-crossover-kannya dengan Lucy, dengan begitu maka terciptalah ‘kekacauan’ yang lebih besar lagi, better ?.  
ATAU
3,5 / 10

3 komentar:

  1. baru tengok tadi... buleh la

    BalasHapus
  2. Film dengan inti cerita menghidupkan orang mati, sudah banyak dibuat, dengan ending yang selalu sama, yaitu selalu saja yang dihidupkan menjadi jahat. Dan memang mudah ditebak ke arah mana penonton digiring. Cenderung membosankan? Belum tentu. Unsur 'twist' atau kejutan menjadi kuncinya. Kalau pandai meramunya dengan kejutan kejutan yang diselipkan dalam bagian film, mungkin akan menjadi film yang tidak membosankan. Banyak contoh, misalnya Pet Sematarynya Stephen King atau yang lebih tegang lagi Re-Aminator.

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !