Jumat, 12 Juni 2015

HOME [2015]

Dreamworks rupanya kembali lagi mengalami penurunan kualitas film. Seperti seorang anak yang masih labil, kadang filmnya bagus, kadang pas-pasan, dan kadang juga sangat membosankan untuk ditonton. Meski tagline-nya yang bertuliskan Worlds Collide terlihat memberikan kesan yang begitu ‘gila-gilaan’, nyatanya Home tidak cukup memberikan efek yang begitu massive sesuai dengan tagline-­nya itu. Klise di beberapa bagian ceritanya, dan ‘garing’ di semua lelucon yang dihadirkannya.  

Tersebutlah ras alien bernama Boov nun jauh di angkasa. Mereka selalu menginvasi planet baru untuk menjadi tempat tinggalnya. Sudah bisa dipastikan, bumi merupakan target berikutnya. Bumi pun akhirnya berhasil diambil alih. Di antara kawanan Boov tersebut, ada salah satu karakter yang begitu bersemangat, ceria, dan friendly, tapi sayangnya keberadaannya tidak diakui oleh Boov lainnya. Dia bernama Oh (Jim Parsons), dan dia sangat mengagumi sosok Captain Smek (Steve Martin) yang menjadi pemimpin para Boov. 

Suatu ketika, Oh melakukan sebuah kesalahan fatal yang dapat memancing Gorg menemukan lokasi persembunyian para Boov di bumi. Gorg sendiri merupakan musuh bebuyutan Boov. Oh kemudian menjadi buronan para Boov lainnya akibat kesalahannya tersebut dan harus menerima hukuman. Dalam pelariannya, ia berteman dengan seorang gadis bernama Tip (Rihanna) beserta kucingnya yang bernama Pig. Petualangan mereka bertiga pun dimulai untuk mencari cara agar Gorg tidak menyerang bumi.
Sejak menit-menit pertama, Home begitu mudah ditebak akan kemana bermuara ceritanya. Cerita utamanya tidaklah jauh-jauh dari From Zero to Hero, sosok Oh yang tidak memiliki teman dan tidak diakui keberadaannya, suatu saat akan memberikan pengaruh besar pada Boov. Sangat klise. Mungkin saja tim kreatif dari Dreamworks begitu kehabisannya cerita, sehingga tema yang sudah jamak seperti ini kembali lagi diulang. Lantas, apa yang membedakan From Zero to Hero-nya The Lego Movie (2014) dengan Home ini ?. Bagi saya pribadi, perbedaannya terletak pada pengemasannya, The Lego Movie begitu fresh dengan dibalut komedi lucu dan tema yang diangkat pun sungguh brilliant. Sedangkan Home, saya hanya tertawa sekali saja sepanjang film berlangsung. Dan itupun hanya sekilas saja.

Karakter Boov sendiri digambarkan dapat berubah-ubah warna sesuai dengan suasana hatinya. Hidup bergerombol dalam jumlah yang besar. Teringat dengan Minions ?, bisa jadi. Tapi yang perlu diingat, Boov bisa berbahasa Inggris. Jenius kah, absurd kah ?. Karakter Boov yang didesain oleh Takao Noguchi ini bisa dibilang jauh dari kesan lucu atau menggemaskan. Paling tidak seharusnya bisa se-memorable Minions, Wall-E, Rango, atau beberapa karakter unik di film animasi lainnya. Boov tidak akan lama tinggal di benak para penontonnya. Bentuknya yang terkesan lembek seperti jeli dan mulut serta gigi besarnya, malah mengingatkan saya pada Stitch. Captain Smek, karakter paling menyebalkan di sini adalah yang memiliki bentuk paling ‘aneh’ dari para Boov lainnya. Karakter menyebalkan dan sok tahu tapi banyak dipuja seperti ini, sudah menjadi kewajiban untuk muncul. Karena tentu saja, peran New Hero-lah yang kelak akan menggantikannya.

Cerita yang dihadirkan kelewat sederhana atau mungkin bisa disebut standard. Komedi slaptick yang muncul begitu super garing dan terdengar ‘kriuk kriuk’ akan kerenyahannya. Bukannya tertawa, justru saya begitu merasa terganggu dengan ulah Oh yang tiba-tiba guling-guling di tanah, contohnya. Dan saya berfikir bahwa selera humor saya masih normal, meski saya sama sekali tidak tertawa saat momen-momen yang mengharuskan penontonnya tertawa. Menyebalkan, itulah kata yang pantas disematkan pada Oh ini.

Melelahkan, itulah kesan saya pada Home. Oh dan Tip bagaikan Sam Witwicki di Transformers yang hanya bisa berlari, lari, dan lari. Lari dari kejaran para Boov, dan lari dari Gorg. Saking lelahnya, saya bertanya-tanya dalam diri, kapan film ini akan selesai ?. Meski durasinya standard film-film animasi pada umumnya (1 jam setengah), Home terasa begitu sangat lama sekali. Alasannya singkat, karena saya bosan, itu saja. Alurnya juga bertele-tele, sehingga tidak langsung to the point pada tujuan utamanya. Dari semua kekurangan Home yang (begitu) banyak, saya cukup (ya, cukup) mengapresiasi Tim Johnson selaku sutradara, yang mengeksekusinya dengan lumayan (hanya lumayan). Semua fakta-fakta tersembunyi terkait para Boov dan Gorg dijabarkan pada akhir, semacam twist tapi tentu saja tidak sampai tingkat breathtaking. Done!  
ATAU
5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !