Selasa, 30 Juni 2015

IN BRUGES [2008]

Mungkin tidak semua orang akan menikmati crime – dark comedy yang bisa dinilai minim action sequence dan komedi yang ditawarkan juga cenderung tidak membuat tawa dengan level LOL, atau mungkin malah sama sekali tidak tertawa. Bisa saja itu merupakan kesan pertama bagi yang belum terbiasa menonton crime – dark comedy, seperti halnya saya saat pertama kali menonton Pulp Fiction (1994), ‘tersesat’ dan tidak tahu cara menikmatinya. In Bruges adalah debut feature-length film Martin McDonagh yang sangat memenuhi ekspektasi saya sebagai film di genre ini. Gelap, tragis, tanpa melupakan kesan lucu di dalamnya.

Dua pembunuh bayaran, Ray (Colin Farrell) dan Ken (Brendan Gleeson) diminta oleh sang bos, Harry (Ralph Fiennes) untuk segera pergi menuju Bruges di Belgia, sampai menunggu instruksi berikutnya. Peristiwa tersebut terjadi tepat setelah Ray membunuh orang yang diminta Harry dan secara tidak sengaja telah menewaskan seorang anak kecil. Sesampai di Bruges, tinggallah Ray dan Ken di sebuah hotel. Ray awalnya begitu terlihat membenci kota Bruges, atau mungkin pengaruh perasaan bersalahnya setelah membunuh anak kecil yang tidak berdosa. Tapi kemudian, Ray mulai betah setelah kencan dengan gadis lokal bernama Chloe (Clémence Poésy). Ray tidak menyadari, bahaya besar tengah mengancamnya.

Hingga sekitar setengah jam film berjalan, masih belum nampak jelas film ini bercerita tentang apa. Yang ditampilkan berulang kali hanyalah perdebatan kecil antara Ray dan Ken terkait Kota Bruges yang dibencinya. Ken juga sering mengajak Ray untuk berjalan-jalan menikmati keindahan Kota Bruges, meskipun ia sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan di sana. Film berjalan dengan tempo menengah hingga adegan di mana Ray dikhianati oleh Chloe, yang ternyata dia adalah pencuri spesialis turis. Apakah sudah jelas kemana arah film ini ?, masih belum ternyata. Cerita masih berputar-putar pada kegiatan Ray dan Ken di Bruges sambil menunggu instruksi berikutnya dari Harry. Meski masih samar-samar jalan ceritanya, tapi In Bruges sama sekali tidak membosankan, justru semakin asyik untuk diikuti karena rasa penasaran yang besar akan tujuan sebenarnya dari film ini bercerita.

Sesuai dengan namanya, dark comedy, banyak lelucon segar lewat dialog-dialog yang dilempar oleh Ray dan Ken. Seperti contohnya ketika mereka saling curhat akan kesalahan di masa lalu dengan mellow dramatis, tiba-tiba berubah menjadi perdebatan panas hanya karena sudut pandang mereka dalam bercerita. Selain itu, masih banyak sekali lelucon lain yang efektif memancing tawa saya, bahkan hingga mendekati akhir film. Lelucon-lelucon khas dark comedy itulah yang membuat tensi saya tidak menurun menikmati film ini, meskipun saya sendiri masih meraba-raba tentang apa garis besar dari ceritanya. Naskah yang ditulis sendiri oleh Martin McDonagh sukses menghidupkan karakterisasi dari Ray dan Ken sebagai hitman dengan sisi humanismenya yang kuat, begitu juga dengan Harry yang meski porsi kemunculannya tidak terlalu banyak.   

Banyak dialog panjang khas dark comedy mungkin bisa berpotensi membuat Anda bosan ketika menontonnya. Tapi percayalah, dari dialognya tersebutlah yang membuat karakter-karakter di sini begitu kuat, dan saya sarankan untuk tidak men-skip dialog panjang tersebut demi mendapatkan esensinya. Seiring berjalannya durasi film, maka sedikit demi sedikit mulai jelas tujuan dari Harry menempatkan Ray dan Ken ke Bruges. Tentu saja, saya tidak akan menuliskannya secara gamblang di ulasan ini, karena saya khawatirkan dapat merusak keasyikan dalam menikmati In Bruges. Semakin jelas arah ceritanya, semakin jelas pula bagaimana kelucuan-kelucuan yang dihadirkan meski berbalutkan unsur gelap kriminal. Ralph Fiennes sukses memerankan bos hitman yang kejam, kasar, mengintimidasi, tapi sangat sayang dengan anak-anak. Colin Farrell dan Brendan Gleeson juga bagus dengan karakter yang mereka mainkan. Tapi bagi saya pribadi, Colin Farrell lah yang terbaik di sini dengan karakter Ray yang kadang-kadang emosional melebihi batas, tapi tetap memiliki kelucuan di baliknya. Seperti inilah karakter yang biasa muncul dalam film crime - dark comedy, sangat salah besar jika Anda berfikir mereka ditampilkan dengan komikal, karena mereka tetap apa adanya sebagai pelaku kriminal yang kejam dan sadis. 

Plot dari In Bruges sendiri sebenarnya cukup sederhana sekali, tapi Martin McDonagh berhasil mengemasnya dengan baik berikut formula dark comedy-nya, sehingga plot yang sederhana tadi mampu terlihat begitu mewah dan brillian. Dua momen paling lucu yang tidak boleh Anda lewatkan tentu saja saat Ray dan Ken yang saling curhat tentang kesalahan di masa lalu serta ketika Ken yang terpaksa harus menghabisi Ray. Menghabisi ?, ya, mungkin akan terdengar sadis dan ironis, tapi adegan tersebut justru dikemas dengan begitu lucunya. Puncaknya adalah klimaks dari In Bruges yang begitu mengejutkan dan tidak pernah terbayang sebelumnya akan berakhir dengan keadaan tersebut, benar-benar dark, sadis, tapi juga lucu. Sebagai tambahan, sempat ada beberapa scene yang menampilkan gore meski tidak secara eksplisit. Jika Anda pecinta film-film action khas Jason Statham, saya tidak menggaransi bahwa Anda akan menyukai action dalam film ini, yang ada mungkin Anda akan bosan dan mengakhirinya. Tapi bagi saya, In Bruges adalah karya debut yang sangat memuaskan.
ATAU
8 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !