Senin, 22 Juni 2015

AKU, KAU & KUA [2014]

Sudah cukup menjamur di Indonesia, film-film yang mengangkat tema pernikahan. Sebagian besar, film bertema pernikahan tidak lepas dari sentuhan komedi. Mulai dari yang lucu sekali hingga yang berkadar cukup. Film yang disutradarai Monty Tiwa ini memiliki segudang cast yang meramaikannya, dengan begitu akan ada banyak ‘rasa’ yang mewarnai jalannya cerita. Bagai rujak buah yang bermacam komposisi, semua nge-mix menjadi satu.

Film ini bercerita tentang 6 sahabat, Uci (Eriska Rein), Deon (Deva Mahenra), Fira (Nina Zatulini), Mona (Karina Nadila), Pepi (Babe Cabita), dan Rico (Adipati Dolken). Hari itu, Fira akan menikah dengan Lando (Eza Gionino) yang sudah ia pacari selama 6 tahun. Dengan konyolnya (atau bodoh), Lando bercerita bahwa ia pernah berselingkuh di belakang Fira. Fira yang marah sejadi-jadinya, lantas membatalkan pernikahannya dan memilih kabur bersama teman-teman lainnya. Ternyata, Deon selama ini juga menyimpan rasa terhadap Fira. Tanpa mencoba memacarinya, Deon ingin menikahi Fira dengan proses ta’aruf. Tapi Fira menolak dengan alasan bahwa mereka bersahabat sudah lama.

Tidak ingin menyerah, Deon berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengambil hati Fira. Dengan bantuan Pepi dan Rico yang merupakan teman satu kosan, berbagai cara konyol pun dilakukan untuk bisa mendapatkan Fira dan restu ibunya. Karakter-karakter lain juga diceritakan beserta hubungannya dengan kekasihnya, lengkap dengan segala masalah yang dihadapi, seperti hubungan Rico yang cukup rumit dengan kekasihnya yang dari kalangan sosialita, Aida (Bianca Liza), lalu Mona yang baru putus dari Jerry (Fandy Christian), hingga pertemuannya dengan Kak Emil (Dwi Sasono).

Semua cerita yang dihadirkan sebenarnya sudah bukan hal yang baru lagi, mulai dari gagal kawin, diputus karena tanpa restu orang tua, hingga mencintai seseorang yang sudah berpasangan. Tapi dengan karakter yang banyak dan lengkap beserta permasalahan yang dihadirkan, jalannya cerita menjadi cukup seru, ramai, dan berwarna. Apalagi kemunculan Babe Cabita yang komikal, menambah suasana menjadi lucu dan tidak terasa terlalu mellow di beberapa momen sedihnya. Dari menit-menit awal, Babe sudah menunjukkan aura-aura kelucuannya, apalagi karakter yang dimainkannya juga tidak kalah konyol dengan kebiasaannya yang suka merekam setiap momen yang terjadi.

Kelucuan yang dihadirkan ternyata tidak hanya berat pada porsi karakter Pepi saja di sini, karakter lain seperti Deon, Rico, dan bahkan Mona pun secara tidak diduga juga ditampilkan dengan komikal. Kehidupan Deon, Rico, dan Pepi sebagai anak kosan yang serba ‘kekurangan’ juga menjadi andalan dalam menghadirkan setiap kelucuannya, meski sempat ada adegan garing dari mereka yang cukup menurunkan tensi saya. Untuk aspek akting, saya sendiri paling menyukai Karina Nadila yang tampil tidak hanya lucu, tapi juga menggemaskan menjadi cewek yang ceplas ceplos dalam bicara. Di balik karakternya yang joyfully, ia juga mampu menjadi Mona yang membuat saya felt dengan masalah pencarian cinta sejati yang dihadapinya.

Secara garis besar, Aku, Kau, & Kua ini dibagi menjadi 2 bagian cerita, bagian pertama mengenai pendekatan Deon dengan Fira hingga ke pertengahan cerita, dan sisanya berfokus pada hubungan antara Uci dengan Rico. Di antara keduanya, diceritakanlah hubungan antara Mona dengan Kak Emil serta hubungan Rico yang cukup bermasalah dengan Aida. Awalnya, saya berfikir bahwa Deon dan Fira memiliki porsi yang paling banyak sendiri di sini, ternyata karakter lain seperti Uci dan Rico juga memiliki porsi yang sama juga. Sedangkan untuk Mona, bisa dikatakan sebagai penyeimbang untuk 2 cerita utamanya. Pepi ?, jangan salah, dia memiliki kejutan di akhir cerita.

Kekurangan yang selalu ada pada film romance atau romance comedy tanah air kita adalah terlalu menitik beratkan pada sudut pandang salah satu agama saja. Sebagai contoh di sini adalah pengertian “cinta” yang dihadirkan tidak lah bersifat universal, melainkan lebih condong pada agama tertentu saja. Harapan saya, tanpa membawa embel-embel agama tertentu, kisah romansanya dapat dinikmati semua kalangan tanpa memandang apapun agamanya. Hal tersebut sampai sekarang selalu saja menjadi ganjalan dalam pikiran saya. Baiklah, saya bisa memaafkan kekurangan di bagian itu. Terlepas dari itu semua, saya sangat menikmati film ini, funny & bittersweet melebur menjadi satu sajian yang begitu menghibur. Alur cerita dan konfliknya memang simple, tapi tidak cheesy. Intinya, saya suka.     
ATAU
7 / 10

1 komentar:

AYO KITA DISKUSIKAN !