Jumat, 05 Juni 2015

NEVER LET ME GO [2010]

Premis yang ditawarkan oleh film yang diadaptasi dari novel karya Kazuo Ishiguro ini sangat menarik sekali, kehidupan mengenai anak-anak manusia yang dibesarkan hingga usia dewasa sampai mereka sudah merasa cukup untuk mendonorkan anggota tubuh mereka melalui beberapa tahapan. Never Let Me Go adalah drama sci-fi yang mengedepankan kekuatan karakterisasi dan kedalaman cerita, terutama aspek humanisme-nya yang sangat kental.

Secara keseluruhan, Never Let Me Go terbagi menjadi 3 babak, yang pertama adalah persahabatan trio kecil Tommy, Kathy, dan Ruth di sekolah bernama Hailsham. Hailsham sendiri merupakan sekolah untuk mendidik anak-anak hasil kloning yang kelak dewasa mereka akan mendapat panggilan untuk mendonorkan anggota tubuhnya. Semua siswa-siswi dalam sekolah tersebut mendapat pendidikan yang tinggi dan sangat tertutup dengan dunia luar. Bahkan setiap waktunya, mereka harus menunjukkan tanda pengenal (ID) berupa gelang metal pada sebuah mesin pembaca yang terpasang di dinding. 

Begitu remaja, trio Tommy (Andrew Garfield), Kathy (Carey Mullligan), dan Ruth (Keira Knightley) dipindah ke sebuah perkebunan bernama The Cottages. Di sanalah, mereka bertiga berkenalan juga dengan alumni dari Hailsham dan mengenal dunia luar yang lebih luas. Dari salah satu alumni, mereka mendapat rumor bahwa ada penangguhan bagi pendonor jika mereka adalah pasangan yang saling menyayangi dan mencintai. Hubungan Tommy dengan Ruth semakin dekat dan mereka tampak saling mencintai satu sama lain. Melihat hal tersebut, Kathy seolah merasa kesepian. Ia pun memilih pergi meninggalkan The Cottages dan melanjutkan keinginannya untuk menjadi seorang perawat hingga tiba waktu baginya untuk mendonorkan tubuhnya.

Apa yang menjadi konflik utama dari para karakter di sini adalah pencarian mereka sendiri pada tujuan hidup mereka, bahwa mereka juga ingin menjadi seperti manusia umumnya, memiliki cinta dan impian, tidak hanya sekedar menjadi bahan donor saja. Mereka yang besar di Hailsham, adalah orang-orang yang tidak bisa lepas dari takdir bahwa suatu saat akan tiba saat untuk mendonorkan diri. Mereka tidak bisa membatalkan atau menunda, jika tiba saatnya maka merekapun harus. Di sini terjadi 2 hal yang menjadi kontradiksi, yang mana donor adalah sebuah kegiatan amal, tapi di satu sisi, hal tersebut juga dapat menghentikan impian besar anak-anak muda tersebut untuk mencari jalan hidupnya. Tapi mereka harus ketika mereka terpanggil dan menjadi yang terpilih. 

Tommy menyukai gambar. Kathy bermimpi menjadi seorang perawat. Mereka memiliki impian masing-masing yang sangat besar. Kathy sangat dekat dengan Tommy, tapi begitu Ruth datang, ia mengambil alih peran Kathy. Dalam hati kecil, Tommy masih menyukai Kathy, tapi ia tidak berani mengungkapkan isi hatinya yang sesungguhnya, begitu juga dengan Kathy. Never Let Me Go memang lengkap dalam mengangkat konflik dari para karakternya yang berfokus pada trio ini, termasuk cinta segitiga dan pencarian cinta sejati oleh Tommy. Selain itu, Never Let Me Go yang didukung kuat dari naskah yang ditulis Alex Garland (sutradara Ex Machina), berhasil membawa nuansa yang cukup gelap dan mengaduk-aduk emosi bagi saya membayangkan nasib trio ini yang tidak bisa lepas dari takdirnya.

Pada akhirnya saya benar-benar melt dengan apa yang dirasakan oleh para karakternya. Saya menyatu  menjadi bagian dari para alumni Hailsham dan menunggu panggilan pendonoran, di kala saya sendiri tengah memikirkan impian yang mulai saya bangun dan itu bisa saja berhenti di tengah jalan. Saya sendiri ikut mempertanyakan untuk apa semua ini jika mereka tidak bisa merasakan kehidupan dan mendapatkan apa yang benar-benar diinginkan. Tapi mereka juga tidak bisa serta merta menyalahkan para pimpinan Hailsham, bahwa tujuan dari semua ini pada akhirnya juga untuk kegiatan amal dan menolong sesama yang membutuhkan. Itu tidak lain juga merupakan bukti yang menguatkan bahwa mereka adalah manusia, bukan sebagai alat/bahan untuk mendonorkan.

Beberapa misteri sempat membuat saya terganjal ketika semua itu tidak terpecahkan hingga akhir. Mengenai bagaimana Hailsham bisa ditutup, memang dapat memberikan banyak spekulasi. Bisa saja praktik pendonoran terhadap anak-anak yang sudah ditentukan sejak kecil tersebut sudah dihentikan oleh beberapa pihak yang melihatnya justru sebagai ‘perampokan’ kehidupan, siapa tahu. Dan lagi, timbul pertanyaan mengapa para alumni Hailsham, tidak mencoba melarikan diri melawan apa yang sudah diputuskan bagi mereka, kecuali mereka sendiri telah terdoktrin sejak kecil, bisa saja. Di luar itu semua, Never Let Me Go sudah cukup memberikan saya perasaan mendalam berupa empati terhadap kehidupan pada karakternya. Selain itu, masih lagi banyak misteri yang hanya dikisahkan secara sepotong-sepotong di sini.

Never Let Me Go bercerita tentang takdir, cinta, dan mimpi. Semua dikemas rapi dan bagus dengan balutan sinematografi indah dari Adam Kimmel dan musik dari Rachel Portman yang begitu membuat heartbreaking. Apa yang saya tangkap dari film ini adalah mengenai siapa diri kita sesungguhnya dan apakah kita bisa berbagi dengan segala yang kita miliki sehingga hal tersebut menjadikan kita sebagai manusia. Saya suka ceritanya yang dalam, saya suka eksekusinya, dan film ini akan menjadi salah satu film drama yang akan memorable bagi saya dan berhasil memancing empati saya pada setiap karakternya, terutama Kathy yang paling tough dari lainnya.
ATAU
8,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !