Sepertinya dengan kesuksesan Children of Men (2006) memaksa
seorang Alfonso Cuarón membuat sci-fi yang sangat luar biasa, Gravity. Tidak
banyak yang ingin saya tulis dari Gravity. Kesederhanaan alur cerita dari
Gravity namun spektakuler membuat saya jatuh cinta pada film ini. Review ini
saya tulis jauh setelah saya menonton Gravity, bahkan untuk yang kedua kalinya.
Interstellar yang digadang-gadang sebagai sci-fi besar pun menurut saya masih
harus “kalah” dari karya Cuarón satu ini.
Adegan pertama dibuka dengan Dr. Matt Kowalski (George
Clooney) yang melayang-layang dinamis di atas bumi yang biru nan indah. Dia
seorang astronot, bekerja pada NASA dalam misi instalasi sistem pada Hubble. Dalam
misi 69 hari tersebut, Dr. Kowalski tidak sendiri, ia dibantu oleh Dr. Ryan
Stone (Sandra Bullock). Terombang-ambing di angkasa dan hanya ada beberapa
orang dalam misi tersebut, membuat mereka dekat satu sama lain. Dr. Kowalski
bercerita banyak hal dengan Dr. Stone, pun sebaliknya. Petaka pun datang ketika
satelit Rusia tertabrak rudal mereka sendiri dalam upaya “pembersihan sampah”. Puing-puing
dari satelite bekas tabrakan pun bertebaran di angkasa dengan cepatnya, hingga
mengenai pesawat mereka dan boom!! Seluruh kru beterbangan.
Dalam keadaan yang terombang-ambing dan tak tentu arah
tersebut, Dr. Stone akhirnya berhasil bertemu kembali dengan Dr. Kowalski.
Untuk lebih amannya, Dr. Kowalski mengikatkan diri pada Dr. Stone yang telah
kehabisan bahan bakar pada jetpack nya. Rupanya, rintangan bagi mereka berdua
yang telah ditinggal mati oleh para kru tidak berakhir di situ saja. Karena
jetpack Dr. Stone telah kehabisan bahan bakar, maka ia kehilangan kendali dari
kecepatan dorongan jetpack milik Dr. Kowalski. Akibatnya, Dr. Stone menabrak
sebuah satelit yang membuat kakinya harus terlilit. Dalam situasi seperti itu,
apa yang akan dilakukan Dr. Kowalski dalam menolong Dr. Stone ?
Gravity lebih condong disebut sci-fi disaster survival,
seperti Apollo 13 (1995). Semua unsur lengkap dimasukkan ke dalam film yang
hanya berdurasi sekitar satu setengah jam ini, seperti kekuatan persahabatan dan
keyakinan. CGI yang canggih, indah, dan mewah berhasil membalut Gravity
sehingga sebagai penonton dapat merasakan bagaimana sulitnya menjadi seorang
astronot yang melayang-layang dalam zero-gravity. Apalagi penambahan konflik
berupa serangan reruntuhan satelit yang saya rasa sangat mendekati masuk akal
terjadi pada misi-misi luar angkasa seperti ini. Itulah salah satu alasan
mengapa Gravity dapat menghadirkan sebuah cerita yang luar biasa dan terkesan
sangat nyata.
Well, akhir kata, Gravity memuaskan saya dengan sajian
sci-fi yang mana adalah salah satu genre favorit saya. Akting Sandra Bullock
memang patut diacungi jempol di sini. Saya benar-benar dibuat larut, bagaimana
ia berperan sebagai manusia biasa tanpa daya harus berjuang sendiri di samudra
angkasa tanpa ujung.
ATAU
9 / 10
BalasHapusPAKAI PULSA XL = AXIS = TELKOMSEL
|| POKER | DOMINOQQ | CEME | CAPSA | SAKONG||
Khusus di Bulan ini POKERAYAM ada
Merdeka Deposit Min Rp.50.000 Bonus 4.500 || Merdeka Deposit Min Rp.100.000 Bonus 8.000
Merdeka Deposit Min Rp.200.000 Bonus 17.000 || Merdeka Deposit Min Rp.500.000 Bonus 45.000
WhastApp : 0812-9608-9061
Lnk : WWW. POKERAYAM. US