Jumat, 22 Mei 2015

CAPOTE [2005]

Pada 15 November 1959, Amerika digemparkan dengan pembunuhan keluarga Clutter yang terdiri dari 4 orang, di Holcomb, Kansas Barat. Setelah 2 pelaku tertangkap, diketahui bahwa kejahatan yang mereka berdua perbuat memang tidak memiliki motif yang begitu jelas. Hal tersebut kemudian mengusik seorang penulis terkenal, Truman Capote, untuk melakukan penelitian dan mengangkatnya menjadi sebuah buku. Didasarkan dari kisah nyata, lahirlah buku yang sangat terkenal berjudul In Cold Blood.  

Setelah membaca berita pembunuhan di Kansas Barat pada halaman depan koran New York Times, Truman Capote (Philip Seymour Hoffman) ingin segera ke Kansas untuk mewawancarai saksi mata yang melihat mayat keluarga Clutter bersimbah darah di dalam rumahnya. Dengan menaiki kereta, ia berangkat bersama sahabatnya yang juga seorang penulis, Nelle Harper Lee (Catherine Keener). Sebelum mewawancarai saksi mata yang merupakan sahabat dari salah satu keluarga Clutter, Capote mencoba untuk mendekati Alvin Dewey (Chris Cooper) yang merupakan polisi dari Biro Investigasi Kansas. Butuh waktu sekitar satu bulanan, 6 Januari 1960, 2 pelaku pembunuhan tersebut berhasil digelandang. Mereka adalah Perry Smith (Clifton Collins Jr.) yang setengah Indian dan Dick Hickock (Mark Pellegrino).   

Selama persidangan, Capote sering memperhatikan Smith yang lebih suka fokus dengan menggambar daripada mendengarkan tuntutan dari hakim. Hal tersebut semakin membuat Capote penasaran dengan karakter Perry Smith yang jauh dari kesan seorang pembunuh. Capote pun mencoba untuk bicara lebih dekat dengan Smith. Dari seringnya bertemu, mereka berdua pun semakin akrab. Dibanding dengan Hickock, Smith jauh lebih mudah untuk diajak bicara dan nada bicaranya pun jauh lebih kalem. Capote berharap, dengan mengorek informasi dari Smith, ia bisa tahu motif yang melatar belakangi mereka untuk membunuh seluruh anggota keluarga Clutter yang dikenal baik oleh orang sekitar. Bahkan, Capote diizinkan oleh Smith untuk membaca buku diarinya. Demi meluluskan niatnya, Capote menawarkan diri untuk menyewakan pengacara yang dapat membantu Smith naik banding. Tapi, Capote sendiri rupanya cukup kesulitan dalam mengorek informasi lebih untuk mengetahui motif pembunuhan tersebut. Maka tidak salah bila buku yang ditulisnya juga berjalan sangat lambat.

Saya tidak akan melemparkan pertanyaan yang isinya mengenai berhasil atau tidakkah Capote dalam menguak motif pembunuhan itu. Yang jelas akhirnya ia pun tahu, jika tidak maka In Cold Blood tidak akan tercipta. Fokus dari film Capote karya Bennett Miller ini sendiri sebenarnya tentang proses penulisan buku In Cold Blood itu sendiri oleh Truman Capote. Di satu sisi ia senang dengan hasil dari karya barunya, dan di satu sisi lagi ia tidak dapat menyelamatkan Smith yang berakhir di tiang gantungan pada 14 April 1965. Memang sebelumnya, Capote berusaha menawarkan diri untuk membantu Smith agar mendapat keringanan hukuman. Tapi menurut saya pribadi, dalam hati kecilnya, Capote tidak berencana menyelamatkan Smith sama sekali. Memang akhirnya kita semua tahu, bahwa Smith yang terlihat kalem dan pendiam itulah yang menghabisi seluruh keluarga Clutter, bukan Hickock. Dengan alasan tersebut, bisa jadi itulah mengapa Capote enggan untuk menolong, meski pada detik-detik akhirnya Capote sempat datang untuk menghibur.

Pergolakan batin dialami oleh Capote. Bukunya, In Cold Blood meledak di pasaran. Bahkan bukunya sering disebut sebagai ‘jurnalisme baru’, yang menggabungkan gaya penulisan jurnalisme dan sastra. Tapi di balik itu, ia terus dibayangi oleh sosok Smith yang tewas di tiang gantungan, meski ia sendiri sebenarnya juga merasa ‘salah’ jika membantu Smith mendapat keringanan hukum. Sebab ia tahu, kesalahan dari Smith sudah tidak membuatnya tertolong lagi. Menarik memang untuk menyoroti lebih dalam lagi sosok Truman Capote ini. Sebelumnya, Capote sukses lewat bukunya yang berjudul Breakfast at Tiffany’s. Bisa jadi, kesuksesannya tersebut merupakan dorongan untuk membuat karya baru. Maka dipilihlah kasus pembunuhan di Kansas Barat sebagai next project. Bisa jadi awalnya, Capote merasa tidak harus menjadi ‘akrab’ dengan Smith, lagipula dia adalah tersangka pembunuhan. Yang penting, bisa dapat informasi banyak untuk bahan menulis buku, mungkin itu yang Capote pikirkan sebelumnya. Tapi siapa sangka, dari seringnya Capote dan Smith bertemu, justru itulah yang membuat mereka semakin dekat dan akrab. Ada unsur ketidak tegaan juga dalam diri Capote jika dia ‘memanfaatkan‘ Smith untuk bukunya, meski ia sudah tahu bahwa Smith bakal tidak lolos dari hukuman mati.  

Singkatnya, film Capote ini mencoba menguak ‘sisi gelap’ dari seorang Truman Capote yang benar-benar ambisius dalam menggarap bukunya. In Cold Blood ini sendiri selesai dalam kurun waktu 6 tahun lamanya. Mungkin untuk menutupi rasa bersalahnya, Capote sudah tidak menulis buku lagi sejak In Cold Blood ini. Truman Capote yang juga bekerja di New York Times ini adalah sosok yang sangat humoris, mudah akrab dengan siapa saja, dan memiliki cara bicara yang ‘unik’. Akting dari Philip Seymour Hoffman sangat bagus sekali dalam menghidupkan sosok penulis terkenal Amerika tersebut. Peran Catherine Keener sebagai sahabat Capote menurut saya tidak terlalu ditonjolkan, tapi cukup menjadi selingan dalam setiap curhatan Capote. Sinematografi yang membawa suasana gelap dan kelam, baik dari sisi pembunuhan maupun sisi lain dari Truman Capote, mampu dihadirkan dengan sangat baik oleh Adam Kimmel

Pada tahun 1967, ada film berjudul In Cold Blood yang didasarkan pada buku In Cold Bloodnya Capote ini. Saya memang belum pernah menontonnya, tapi mungkin saja film In Cold Blood tadi lebih berfokus pada duo pembunuh ini, Perry Smith dan Dick Hickock. Film Capote dan In Cold Blood sepertinya menjadi satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya adalah 1 kasus yang dilihat dengan 2 sudut pandang yang berbeda. Saya sudah tidak sabar lagi untuk meluangkan waktu agar bisa menikmatinya sebagai pelengkap.
ATAU
9 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !