Sabtu, 23 Mei 2015

SIDEWAYS [2004]


Dari 3 film Alexander Payne yang pernah saya tonton (termasuk Sideways ini), kesemuanya banyak mengangkat tema tentang kehidupan sehari-hari yang sederhana, dan tentunya dengan tambahan unsur komedi. Jalan cerita film-filmnya juga sangat ringan sekali untuk diikuti, tapi tidak kacangan dan sangat heartwarming. Sideways ini bercerita tentang 2 pria yang merayakan indahnya usia matang mereka dengan berkendara keliling California. Seperti film Chocolat (2000) dengan filosofi cokelatnya, maka Payne menambahkan wine sebagai filosofi yang terkandung dalam Sideways.
  
Seorang guru SMP yang hidupnya pas-pasan, Miles (Paul Giamatti) pagi itu nampak tergesa-gesa karena ada janji ke rumah sahabatnya, Jack (Thomas Haden Church). Selain menyambangi Jack dan calon istrinya, Miles sekaligus menjemputnya untuk berkendara keliling California, seperti yang telah mereka rencanakan sebelumnya. Miles sendiri ingin menyenangkan hati sahabatnya tersebut dengan mengajaknya mencicip aneka wine atau bermain golf selama perjalanan, sebelum dia menikah minggu depannya. Miles yang masih dalam tahap menulis novel itu kemudian menyempatkan waktunya untuk mengunjungi ibunya sejenak bersama Jack. Di rumah ibunya, Miles teringat kenangan ‘pahit’nya akan mantan istrinya, Victoria (Jessica Hecht) yang telah menceraikannya 2 tahun lalu. Perjalanan mereka pun berlanjut hingga ke sebuah restoran di mana Miles bertemu kenalan lamanya, Maya (Virginia Madsen) yang bekerja sebagai pelayan di situ. Jack berusaha menggoda Miles agar mendekati Maya dan melupakan masa lalunya. Miles yang jago mencicipi wine mencoba mengabaikannya, dengan alasan kalau Maya bukan tipikalnya, karena tidak tahu banyak soal wine

Di salah satu kedai syrah, Jack berkenalan dengan seorang pelayan di sana, Stephanie (Sandra Oh). Ia berharap dapat ‘mengencaninya’ sebagai bentuk kebebasan sebelum menikah minggu depannya. Stephanie yang juga kenal baik dengan Maya, diajak oleh Jack untuk acara makan malam bersama, meski sebelumnya Miles tampak kurang setuju dengan hal tersebut. Miles begitu terpukul dan mengajak kembali dari perjalanan tersebut karena mengetahui bahwa Victoria mantan istrinya telah menikah lagi. Akibatnya, acara makan malam yang telah diskenario oleh Jack tidak berjalan begitu lancar, karena Miles sendiri mabuk dan sempat berlaku kurang baik dengan Victoria lewat telepon. Awalnya Jack berharap dengan makan malam tersebut, Miles bisa lebih dekat dengan Maya dan bisa berkencan untuk melupakan masa lalunya dengan Victoria. Sedangkan ia sendiri berusaha mengambil ‘untung’ dari perkenalannya dengan Stephanie. Berhasilkah Miles melupakan Victoria dan mendekati Maya ? Bagaimana dengan kelanjutan perselingkuhan Jack dengan Stephanie ?

Sepanjang film berlangsung, saya memang banyak dibuat tertawa oleh tingkah laku konyol Jack dan Miles. Mereka berdua tidak sedang melucu dalam setiap adegan di film ini, mereka hanya berlalu saja menikmati perjalanan dengan mobil, mampir di kedai wine, hingga bertemu Maya dan Stephanie. Apa yang membuat lucu dari 2 sosok ini adalah berseberangannya cara berpikir mereka berdua, sehingga terkadang hal-hal lucu justru tercipta dari perseteruan kecil. Naskah yang ditulis oleh Jim Taylor dan Alexander Payne sendiri sukses menghidupkan karakter 2 pria matang yang berbeda sudut pandang ini dengan dibungkus komedi situasi yang pas, lucu, dan sangat menghibur. Komedi yang dihadirkan memang tidak membuat saya tertawa dengan tingkatan Lot of Loud, tapi kadarnya cukup. Selain itu, penambahan tema berupa jenis-jenis minuman beralkohol, mulai dari wine, pinot, dan syrah, membuat saya ‘sedikit’ tahu mengenai mereka. Pengambilan gambarnya juga unik, di mana komedinya terkadang diselipkan di bagian akhir sebelum pergantian adegan selanjutnya. 

Miles, seorang guru SMP yang tengah dalam proses penulisan novel, tinggal di apartemen kecil, ahli dalam mencicipi wine, serta tidak bisa move on dengan mantan istrinya yang telah berpisah sejak 2 tahun lalu. Ia tidak terlalu tertarik mencari wanita lain, karena yang ada dipikirannya adalah mantan istrinya, Victoria. Jack, seorang aktor, akan segera menikah dengan wanita kaya, selalu merasa bahwa semua wanita menyukainya, dan hobi selingkuh. 2 karakter yang sangat berbeda, tapi mereka bisa bersahabat dekat. Karakter Miles memang sangat kalem dan tidak se-ekstrim Jack, terutama dari cara bicaranya. Tidak hanya Miles, saya sendiri juga terkadang sering dibuat sebal dengan tingkah laku dari Jack. Tapi meski menyebalkan, tidak lantas membuat saya membenci karakter Jack ini. Saya malah sangat menyukai segala kelucuannya yang timbul dari sifatnya yang sok tahu dan suka menasihati Miles. Awalnya, Miles selalu menyanggah setiap pernyataan sok tahu dari Jack. Tapi lucunya, semua hal sok tahu yang dibicarakan Jack memang ada benarnya.

Memang cukup ‘mengenaskan’ melihat setiap kesialan yang diterima oleh Miles. Saya melihat Miles adalah orang baik yang tidak pernah neko-neko, tapi selalu saja ada kesialan yang ia dapatkan. Sedangkan Jack, orang yang selalu ‘bermain api’ terhadap setiap hal, justru selalu mendapatkan banyak keuntungan. Lihat saja bagaimana ketika ia berhasil mengencani Stephanie atau pelayan dari sebuah restoran. Padahal, minggu depannya dia sudah akan menikah dengan seorang wanita yang baik, dari keluarga baik-baik dan kaya pula. Oh Tuhan, di manakah keadilan ? pikir saya ketika itu. Tapi itulah kehidupan, terkadang memang tidak seperti apa yang diharapkan. Meski Miles sering ditampilkan dalam keadaan depresif karena kesulitannya untuk move on, tapi tidak dihadirkan dengan mellow dan kesedihan berlarut-larut, karena di balik itu kembali lagi muncul nuansa lucunya. Seperti contohnya ketika Miles tahu istrinya menikah lagi, ia malah minum wine sambil berlarian di kebun anggur dan memaksa pulang seperti anak kecil. Dengan melihat film-film lain dari Alexander Payne, saya tahu bahwa ia tidak akan memasukkan kesan tragic, meskipun cerita di dalamnya juga bisa dibilang tidak terlalu happy.        

Yang paling saya sukai di sini tentu saja adalah dimasukkannya tema wine. Payne sendiri tidak asal memasukkannya dengan sembarangan di Sideways ini. Sebab di balik wine sendiri, terdapat filosofi di dalamnya, yaitu semakin tua wine tersebut, maka semakin ‘nikmat’ rasanya. Wine tersebut bagaikan hidup Miles, atau bisa juga mungkin Jack. Semakin matang usia mereka, semakin dekat pula mereka untuk mendapatkan ‘nikmat’ tersebut. Seperti yang kita ketahui, akhirnya Jack pun menikah. Mungkin itulah ‘nikmat’ yang ia dapatkan dari hidupnya. Sekarang tinggal Miles, apakah ia akan segera menemukan tambatan hatinya sebagai perjalanan akhir pencarian ‘nikmat’ tersebut. Tentunya, Miles pun harus berusaha membuka hati bagi siapa saja wanita yang dekat dengannya dan segera melupakan mantan istrinya yang telah menjadi masa lalu. Overall, Sideways adalah komedi romansa dan road yang sangat lucu, menghibur, dan komplit di dalamnya, mulai karakter lucu hingga filosofi hidup, serta sangat tidak membosankan meski ditonton berulang kali.

ATAU
9 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !