Jumat, 22 Mei 2015

THE TALE OF THE PRINCESS KAGUYA [2013]


Berbeda dengan karya sebelumnya, kali ini Studio Ghibli membuat film yang diadaptasi dari cerita rakyat terkenal dari Jepang, Taketori Monogatari. The Tale of The Princess Kaguya menandai karya awal Ghibli sejak hengkangnya sang maestro, Miyazaki Hayao dari studio tersebut. Akankah film adaptasi dari cerita rakyat terkenal ini dapat membawa kejayaan karya Studio Ghibli sebelumnya meski tanpa sentuhan tangan dingin Miyazaki ?

Saya rasa sudah banyak yang tahu sebagian besar dari kisah mengenai Putri Kaguya itu sendiri. Tapi di sini saya perlu menuliskan sedikit mengenai sinopsisnya bagi yang belum mengetahuinya sama sekali. Zaman dahulu kala ada seorang penebang pohon bambu bernama Sanuki no Miyatsuko (Chii Takeo), menemukan sebuah cahaya yang bersinar dari salah satu bambu di dalam hutan. Di bawah bambu yang bersinar tadi, terdapat sebatang rebung yang mekar dan di dalamnya terdapat seorang putri cantik dengan tubuh yang sangat mungil. Dibawalah putri mungil tadi ke rumahnya yang sederhana di kaki gunung. Bersama istrinya (Miyamoto Nobuko), mereka berdua kemudian merawatnya dengan penuh kasih sayang. Sanuki no Miyatsuko dan istrinya telah hidup bersama puluhan tahun, tapi belum diberkahi seorang anak pun. Maka dengan datangnya Hime / Putri tadi, ia menganggapnya sebagai sebuah berkah. 

Alangkah mengejutkannya, sang Putri (Asakura Aki) tumbuh dengan begitu cepatnya. Oleh teman-temannya, ia mendapat sebutan Takenoko atau “rebung” karena pertumbuhannya yang cepat tadi. Sang Putri atau Takenoko menjalani hidupnya dengan penuh bahagia bersama dengan orang tua angkatnya dan teman-temannya yang banyak. Ia menghabiskan banyak waktu bermain bersama Sutemaru (Kora Kengo) dan adik-adiknya di dalam hutan. Pertumbuhan sang Putri pun berjalan begitu cepatnya, tanpa terasa ia sudah menginjak usia remaja. Suatu ketika, Sanuki no Miyatsuko menemukan banyak emas dan kain indah berwarna-warni dari dalam bambu di hutan. Ia berpikir bahwa Langit telah memerintahkannya untuk menjadikan sang Putri menjadi putri yang sesungguhnya. Hidup di istana mewah dan memakai baju mewah pula. 

Dari emas yang didapatnya, kemudian Sanuki no Miyatsuko pergi ke kota untuk membangun sebuah istana di mana ia bisa menjadikan sang Putri menjadi seorang putri yang akan memerintah di sana dan dapat menikah dengan Pangeran pula. Tapi, sang Putri menolak keputusan ayahnya tersebut karena ia tidak tega meninggalkan teman-temannya, terutama Sutemaru. Bagaimanakah kelanjutan kisah sang Putri di istana ? Dan bagaimana ia bisa memiliki nama Kaguya Hime / Putri Kaguya ?    

Mungkin bagi sebagian besar orang, film yang diangkat dari kisah yang sudah terkenal berpotensi mengurangi ekspektasi yang besar di bagian awalnya. Memang, bagi yang sudah mengerti sebagian besar jalan ceritanya. Tapi bagi yang belum, tentu merupakan sajian yang istimewa ketika sebuah cerita rakyat yang berusia ratusan hingga ribuan tahun diangkat menjadi film dengan tampilan yang lebih fresh. Saya tidak ingin mengomentari jalan cerita dari The Tale of The Princess Kaguya yang diangkat dari cerita rakyat termahsyur dari Jepang, Taketori Monogatari ini. Yang pastinya, kisah petualangan Putri Kaguya ini merupakan kisah yang sangat bagus dengan banyak unsur fantasi yang menyelimutinya. Tapi saya ingin bicara mengenai aspek visual-sound dan keterikatannya dengan sebagian besar karya-karya Ghibli sebelumnya.   

Dari aspek visual, The Tale of The Princess Kaguya memiliki perbedaan dari para pendahulunya, yaitu menggunakan gambar yang dibuat menyerupai lukisan cat air. Cukup beralasan memang bila sang sutradara, Takahata Isao menggunakan konsep tersebut karena kisah Putri Kaguya ini sendiri lebih banyak mengangkat kehidupan di istana yang zaman dahulu sering dilukis dengan media cat air. Ada momen di mana  Putri Kaguya melarikan diri dari istana ditampilkan dengan gambar yang begitu indahnya serta didukung dengan skoring dari Hisaishi Joe yang mendramatisir, semakin menambah dinamis pergerakan gambarnya. Musik merdu gubahannya juga semakin menambah suasana yang syahdu ketika mengiringi penjemputan Putri Kaguya dari istana menuju langit.    

The Tale of The Princess Kaguya sendiri memang tidak asal main adaptasi oleh Studio Ghibli. Kisah yang terkandung di dalamnya sendiri masih seputar keindahan dunia anak yang penuh dengan fantasi dan memiliki kesamaan dengan karya-karya Ghibli sebelumnya. Tapi di balik itu, The Tale of The Princess Kaguya sendiri juga menyimpan kisah kelam di dalamnya, yaitu dipaksanya Putri Kaguya untuk pindah ke ibukota menyebabkan ia kehilangan masa-masa indah bermainnya bersama Sutemaru dkk. Selain itu, Kaguya juga dipaksa untuk hidup ala tuan putri dengan segala aturan-aturan yang ketat dan mengekang. Lebih parahnya lagi, Kaguya pun harus menerima lamaran dari para pria yang ingin menikahinya, meskipun ia tidak mencintainya. Secara fisik, Kaguya memang sudah remaja, tapi dari segi usia sebenarnya ia masih kecil dan butuh banyak waktu untuk menikmati masa bermain bersama teman-temannya. Sangat disayangkan sekali Kaguya yang masih kecil tersebut menjadi ‘korban’ ketamakan dari sang ayah. Memang, sebenarnya apa yang dilakukan ayahnya demi kebaikan Kaguya sendiri, tapi tentu ada waktu yang lebih tepat bagi Kaguya untuk memilih jalannya sendiri.

Seperti halnya Spirited Away (2001), kisah di balik The Tale of The Princess Kaguya sendiri juga mengangkat tentang eksploitasi anak-anak terutama oleh orang terdekatnya. Takahata Isao dan Sakaguchi Riko selaku penulis naskah mencoba mengorek lebih dalam lagi kisah kelam di balik The Tale of The Princess Kaguya, jadi tidak hanya sekedar dongeng indah berbumbu fantasi belaka. Memang tidak bisa disangka bila cerita rakyat yang banyak dikisahkan untuk anak-anak tersebut berisikan sindiran terhadap orang tua yang suka membatasi masa indah anak-anak dan kepada para bangsawan kelas atas yang suka memaksakan kehendaknya untuk menikahi wanita yang meski tidak mencintainya. Jika dibanding dengan Grave of The Fireflies (1988), The Tale of The Princess Kaguya memang tidak ditampilkan sekelam dan setragis itu. Masih ada momen-momen lucu yang ditampilkan dan semuanya dikemas dengan colourful dan diiringi dengan musik yang ceria pula, sehingga tidak terlihat terlalu gelap dan kelam.  

ATAU
8,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !