Minggu, 10 Mei 2015

THE ARTIST [2011]

Kehidupan ini berputar bagaikan roda pedati. Ada keadaan manusia berada di atas, lalu kemudian berada di bawah, begitu juga sebaliknya. Berbeda dengan profesi lainnya, maka para pelakon di dunia hiburan harus bersiap dengan segala risiko “kejam”nya dunia itu. Premis itulah yang kemudian diangkat ke dalam film Perancis - Amerika garapan Michel Hazanavicius ini.

George Valentin (Jean Dujardin) seorang aktor film bisu yang namanya dikenal luas lewat film-filmnya. Ia selalu puas dengan setiap film yang dibuat dan dibintanginya sendiri. Riuh tepuk tangan penonton tak pernah sepi mengapresiasi karyanya. Pada hari dimana pemutaran perdana salah satu filmnya, ia nampak dikerubungi banyak wartawan dan para penggemar. Salah seorang wanita di antara kerumunan penggemar tersebut, menjatuhkan dompetnya dan hendak memungutnya kembali. Siapa yang sangka, ketika ia akan mengambil dompetnya malah bertabrakan dengan George dan sempat membuatnya hampir terjatuh. Semua orang di sana tiba-tiba terdiam melihat ekspresi wajah George yang kesal terhadap wanita tadi. Namanya juga artist, siapa yang sangka wajah kesal tadi hanyalah akting. Begitu tahu bahwa George hanya berakting, para wartawan dan penggemar lainnya langsung memberikan tepuk tangan yang meriah. Begitulah awal perkenalan George dengan Peppy Miller (Bérénice Bejo), wanita yang menabraknya tadi.

Suatu hari, Peppy mengikuti audisi yang diadakan oleh Kinograph Studio, tempat bernaungnya karya-karya George. Dengan mudahnya, Peppy lulus audisi lewat tarian yang dibawakannya. Di dalam studio, George berdebat dengan Al Zimmer (John Goodman) yang menjadi produsernya. Merasa tidak mempedulikannya, perhatian George malah tertuju pada seorang wanita yang menari dengan indahnya. Ya, dialah Peppy. Sejak saat itu, George semakin dekat dengan Peppy. Sesekali George mengajak syuting Peppy, dan ia dapat melihat potensi yang dimilikinya. Ketika George sedang syuting, Al memanggilnya untuk menunjukkan sesuatu yang dapat menjadi masa depan bagi perfilman, yaitu film bersuara. George malah meragukannya dan menertawakannya. Ke depannya, Al akan memproduseri film-film bersuara dan membutuhkan artist-artist baru, salah satunya adalah Peppy. Melihat hal tersebut, George keluar dari Kinograph dan akan tetap membuat film-film bisu. Bagaimana kelanjutan karir George Valentin ke depannya ? Sanggupkah ia menghadapi gebrakan baru dari film-film bersuara ?

Film ini bercerita sesuai dengan premis yang saya tuliskan di atas. Pasang surut kehidupan seorang artist di dunia hiburan yang “kejam” dalam menghadapi era baru. Memang dalam hidup ini kita pasti akan menghadapi proses re-generasi, dan itu tidak bisa kita pungkiri. Contohnya mereka yang bekerja di dunia hiburan, mereka harus bersiap untuk tersingkir dengan wajah-wajah baru yang siap menghiasi berbagai media. Selain wajah-wajah baru, dunia hiburan juga menuntut sesuatu yang bisa menyesuaikan dengan zaman. Dalam hal ini, George Valentin yang karirnya terancam hancur atas gempuran jenis film baru, yaitu film bersuara dan artis-artis baru yang lebih muda. Di dunia industri hiburan memang semuanya juga terletak pada kekuatan publik. Apa yang diminta oleh publik, itulah yang akan dijual. Tetapi ketika permintaan dari publik menurun, maka sudah dipastikan akan tenggelam oleh zaman. Dari karakternya, George adalah aktor yang sangat percaya diri akan karir di masa depannya yang tetap moncer. Selain itu, George juga tipikal orang yang terlalu mengagumi diri sendiri. Maka, ketika karirnya hancur berantakan karena tidak dapat bertahan di era yang baru, ia merasa segala yang ia miliki di duniapun ikut hancur. Uang dan ketenaran, semua lenyap tak tersisa. Sekiranya, anggapan terhadap dunia hiburan yang “kejam” adalah benar adanya.

Menonton The Artist rasanya sama dengan menonton film-film bisunya Chaplin, seperti The Great Dictator (1940) tapi yang sudah direstore. Saya suka sinematografi hitam putih film ini. Ditambah dengan rasio 4 : 3, membuat The Artist persis dengan film bisu yang rilis di awal tahun 1900an. Ada saat dimana saya sebenarnya kesal dengan karakter George, terutama sifatnya yang terlalu mengagumi diri, tanpa memberikan yang lain kesempatan untuk menunjukkan potensi, kecuali pada Peppy. Tapi, ada juga momen yang membuat saya iba dan mata saya berkaca-kaca. Akting Jean Dujardin sukses memerankan George Valentin yang berkharisma dan percaya diri. Ia juga sukses ketika menampilkan wajah melas George. Peran karakter Peppy di sini juga memiliki pengaruh besar, terutama dalam menyeimbangkan keberadaan George. Meskipun kemunculan Peppy di industri hiburan banyak diapresiasi, tapi layaknya artis lainnya, maka sangat memungkin datangnya masa kejatuhan. Ya itulah kehidupan artis. Ada saat mereka dipuja, ada saat mereka ditinggalkan.
ATAU
9 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !