Selasa, 19 Mei 2015

WALL-E [2008]

Semua film bertemakan masa depan rasanya sangat asyik sekali untuk diikuti. Sebagai penonton yang hidup di era ini, pasti ikut membayangkan bagaimana seandainya hidup di masa depan yang penuh dengan kecanggihan teknologi, design bangunan dan mobil yang futuristik, dsb. Tapi, kita tidak pernah tahu bagaimana suasana di masa depan itu sendiri. Bisa saja indah dengan deskripsi di atas atau malah justru penuh dengan kehancuran. Film animasi Pixar yang disutradarai Andrew Stanton ini mengajak kita untuk menjelajahi masa depan yang jauh dari pemikiran banyak orang.

Di masa depan, bumi begitu sangat sepi, tandus, panas, dan penuh dengan berbagai macam sampah. Semua sampah yang menutupi bumi adalah sampah-sampah non-organik seperti benda-benda logam. Bahkan, langit tampak gelap karena begitu penuhnya dengan sampah satelit yang berserakan. Di antara suasana sepi senyap tadi, sering terdengar suara nyanyian dari musik yang dimainkan oleh Wall E (Ben Burtt), sebuah robot tipe lama (ketika itu) yang dibuat oleh perusahaan Buy & Large, sebagai robot scrap/pengolah benda rongsokan. Dari semua robot Wall E yang pernah ada, hanya tersisa 1 dan dia masih bisa tetap bertahan dalam mengolah benda-benda rongsokan dengan ditemani sahabat setianya, seekor kecoak. Setiap sampah logam yang ada di atas bumi, ia press menjadi bentuk-bentuk kubus dan menumpuknya setinggi pencakar langit. 

Sesekali, Wall E menemukan benda-benda lama ketika ia dalam proses pengumpulan sampah, seperti video yang di dalamnya berisikan 2 pasangan yang menari begitu bahagianya. Meski Wall E hanya sebuah robot, tapi dari gesture-nya, ia nampak sekali meresapi apa yang ia lihat, seolah-olah ia merindukan seorang pasangan yang siap menemani hari-harinya. Keadaan bumi di masa depan sendiri tidaklah bersahabat, terkadang badai pasir tiba-tiba datang dan menyapu semua yang dilewatinya. Dalam keadaan seperti itu, Wall E hanya bisa bersembunyi di balik tempat rahasianya, yang di dalamnya banyak benda-benda berharga yang selalu disimpannya, termasuk suku cadang. 

Suatu ketika, datanglah pesawat asing dari luar angkasa. Pesawat tersebut kemudian menurunkan sebuah kapsul putih, yang tak lain sebuah robot. Robot putih tadi lalu pergi mengitari dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari sesuatu. Wall E yang merasa tertarik dengan robot putih tadi, mencoba untuk mendekatinya meski selalu direspon kurang baik. Badai pun datang, dan Wall E berusaha meyakinkan robot putih tadi untuk bersembunyi. Diajaknya robot putih tadi ke dalam persembunyiannya dan ia tunjukkan semua benda yang ia simpan. Mereka kemudian semakin akrab, dan robot putih tadi pun memperkenalkan dirinya, Eve (Elissa Knight). Kemudian, Eve yang lebih canggih dan superior dari Wall E itu tiba-tiba merespon aneh pada salah satu benda yang disimpan oleh Wall E, yaitu pohon kecil yang tumbuh di sepatu boot tua. Secara otomatis, tubuh Eve kemudian menyimpan pohon kecil tadi dalam tubuhnya lalu iapun hypersleep hingga pesawat induk datang dan menjemputnya. Tidak tinggal diam, Wall E kemudian mengikuti Eve dengan menggantung pada pesawat tadi. Berhasilkah Wall E mengikuti Eve ? Dan kemanakah pesawat tersebut pergi ?    

Dalam ukuran film animasi, Wall E bisa dikatakan memang mendekati masterpiece. Hampir semua aspek memiliki nilai keistimewaannya, meliputi storyline hingga grafis. Sangat berbeda dengan animasi buatan Pixar sebelumnya hingga selanjutnya. Apa yang membuat Wall E begitu mencolok adalah minimnya dialog di bagian pembukaan hingga sekitar menit ke 40. Kita akan disajikan pemandangan yang sangat ‘tragis’ dari masa depan bumi itu sendiri. Sangat berbeda dengan apa yang sering kita lihat dari film-film bertemakan masa depan lainnya yang sering menampilkan megahnya bangunan-bangunan futuristik. Pada saat itu, bumi sudah benar-benar kehabisan sumber daya. Sampah, panas, dan berdebu membuat bumi sudah tidak layak untuk ditempati lagi. Maka, manusia pun pindah untuk mencari tempat baru. Air dan pepohonan pun sudah “punah”. Dalam keadaan tersebut sudah pasti manusia tidak bisa bertahan.

Wall E adalah robot scrap yang tiada hentinya bekerja semenjak ia diprogram untuk pertama kalinya. Bahkan, semua robot jenis Wall E lainnya sudah hancur termakan zaman, dan hanya tersisa satu yang tidak pernah berhenti mengumpulkan sampah-sampah logam itu. Wall E memang robot yang lebih dari sekedar canggih, jika kita melihatnya dari sudut pandang era sekarang. Atau mungkin dia memang sudah dilengkapi dengan Artificial Intelligence (kecerdasan buatan). Pada beberapa momen memang ditampilkan bahwa Wall E seolah-olah memiliki perasaan seperti manusia. Terlihat dari caranya ia melihat seorang pria dan wanita bergandengan tangan di sebuah video yang ia simpan. Maka, dengan kedatangan Eve, Wall E berencana untuk mencoba apa yang dirasakan oleh manusia, bergandengan tangan dan merasakan kehangatan. Saya sendiri terkadang masih sering merasakan ‘iba’ jika harus mengingat ia hidup sebatang kara di bumi yang kosong tanpa penghuni. Sungguh begitu hidupnya sosok Wall E ini, mampu membuat saya bersimpati. 

Beda Wall E beda Eve. Ia dibuat jauh lebih canggih dan maju dibandingkan Wall E. Manusia yang ketika itu berada di suatu tempat di antara bintang-bintang, telah mengembangkan banyak teknologi baru, dan salah satu buatannya adalah Eve itu sendiri. Tidak bisa dipungkiri memang bila pada saatnya manusia akan pulang ke ‘kampung halamannya’. Secanggih apapun manusia di luar sana, pasti ada alasan mengapa mereka harus kembali bumi, meski sebelumnya sudah tahu dengan apa yang terjadi pada bumi. Itulah tujuannya sebenarnya mengapa Eve mengambil pohon milik Wall E, yang mana merupakan benda organik yang sudah punah dari muka bumi. Para manusia berharap, dengan pohon tadi mereka bisa kembali menghijaukan bumi dan menempati kembali apa yang telah para nenek moyang tinggalkan. 

Pengangkatan isu dari dampak global warming dalam Wall E adalah hal yang sangat bagus sekali. Berbeda dengan The Lorax (2012), meski mengangkat tema sama, tapi cenderung membosankan dalam pengemasannya. Sudah banyak memang film-film yang mengangkat tema dissaster di mana manusia pergi mencari lokasi baru di luar bumi. Tapi ada bagian yang mereka lupakan yaitu sejauh apapun manusia pergi ke luar angkasa, pasti ada perasaan rindu mendalam di tanah kelahiran, bumi. Itulah bagian yang sering film lain lupakan, dan Wall E telah melebihi ekspektasi saya dengan menambahkan ‘kerinduan’ tadi. Itulah unsur humanisme yang sangat jarang diangkat ke dalam film science fiction. 

Berbicara mengenai science fiction sendiri, tidak ada salahnya bila mengungkap fakta menarik dalam Wall E. Jika Anda pernah menonton film science fiction terbaik sepanjang masa (versi saya) yang berjudul 2001 : A Space Odyssey (1968) karya sutradara besar Stanley Kubrick, maka Anda tahu yang saya maksud. 2 musik yang menjadi soundtrack dalam 2001, The Blue Danube dan Also Sprach Zarathustra kembali dimunculkan di sini. Tidak hanya itu, penampakan komputer dengan kecerdasan buatan yang bernama Auto di sini, didasarkan pada bentuk HAL9000 dalam 2001, lengkap dengan ‘pemberontakannya’. Sebenarnya ini bukan hal baru bagi Pixar yang mencoba menampilkan fitur-fitur dari film buatan Kubrick. Sebelumnya, di Toy Story 2 (1999) pernah ditampilkan pula design karpet yang khas dan serupa pada film besutan Kubrick lainnya, The Shining (1980). 

Secara keseluruhan, Wall E benar-benar sebuah sajian yang heartwarming dan cerdas. Meski minim dengan komedi, tapi Wall E mampu membuktikan bahwa keminimannya tadi melebihi film-film animasi lain yang meski banyak komedi, tapi ‘garing’ dalam penyampaian. Tidak mengherankan bila Wall E masuk ke dalam daftar film favorit saya yang tidak pernah bosan untuk ditonton.
ATAU
9 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !