Minggu, 03 Mei 2015

GROUNDHOG DAY [1993]

Apa yang membuat film terasa unik ? Saya berpendapat bahwa salah satu unsur yang membuat film menjadi unik adalah permainan terhadap plot. Secara mayoritas film dibangun dengan plot yang linear. Tapi hanya ada beberapa film yang dibuat dengan plot non-linear atau tidak mengikuti basic plot, di antaranya adalah seperti Pulp Fiction (1994), Memento (2000), Traffic (2000), Babel (2006), Crash (2004), dan masih ada beberapa lainnya yang tidak bisa saya sebutkan di sini. Groundhog Day adalah salah di antara film dengan plot non-linear tersebut. Film arahan Harold Ramis ini memiliki plot flash back secara berulang-ulang.

Phill Connors (Bill Murray) adalah seorang pembawa acara berita cuaca dari stasiun tv 9. Phill seorang yang pesimis, acuh, dan selalu melihat dunia dengan perspektif negativ. Maka ketika ia antusias dalam tv mengatakan akan mengunjungi Punxsutawney dalam acara peliputan festival Groundhog (tupai), maka hal tersebut berlainan dengan yang ada dalam hatinya. Meski terpaksa, akhirnya Phill pun menyetujui untuk ke Punxsutawney bersama calon Produser, Rita (Andie MacDowell) dan kameramen, Larry (Chris Elliott). Sejak hari pertama di Punxsutawney, Phill sudah menunjukkan rasa enggannya. Ia heran mengapa warga kota tersebut harus rela mengadakan perayaan demi menunggu Phill si “Tupai” dengan ramalan akan datangnya musim semi.  

Ramalan si tupai pun muncul dengan info bahwa musim semi masih akan datang 6 minggu lagi. Lantas tentu saja seorang Phill Connors mengejek dengan nada sarkasmenya. Tak ingin terlalu lama di Punxsutawney, Phill mengajak Rita dan Larry segera kembali ke Pittsburg. Naas, jalan menuju ke Pitssburg ditutup karena ada badai salju, berbanding terbalik dengan berita cuaca yang telah dibacakan oleh Phill di tv pada hari sebelumnya. Phill dkk pun terpaksa harus menginap di Punxsutawney. Keeseokan harinya, tepat pada pukul 6 pagi, beberapa hal ganjil dialami oleh Phill. Semua peristiwa yang telah ia lalui pada hari kemarin terulang sama persis dengan hari ini. Sebagian besar peristiwa tersebut adalah hal yang sangat dibenci oleh Phill, salah satunya adalah pertemuan Phill dengan penjual asuransi menyebalkan yang tak lain adalah teman sekolahnya dulu, Ned (Stephen Tobolowsky). Peristiwa-peristiwa ganjil tersebut tidak hanya terulang sekali atau dua kali, melainkan berulang kali. Fenomena apa sebenarnya yang dialami oleh Phill ?
Membuat film dengan plot flash back berulang kali seperti ini mungkin sekilas akan terlihat membosankan bagi yang menontonnya. Yah, hanya terlihat sekilas. Padahal kenyatannya hal tersebut justru menjadikan faktor yang sangat unik bagi sebuah film. Meski beberapa adegan diulang berkali-kali sebagai akibat dari “fenomana misterius” tersebut, tetap tidak membuat saya bosan. Saya semakin asyik mengikuti tiap pengulangan-pengulangan, karena dari peristiwa tersebut Phill dapat melakukan berbagai macam hal berbeda. Ada kesan kontras antara apa yang dirasakan oleh Phill dan penonton seperti saya ini. Dimana saya merasakan keasyikan mengikuti alur ceritanya, justru Phill merasakan kebosanan tingkat akut karena peristiwa yang dialaminya berulang terus tanpa henti.

Pesan yang ingin disampaikan dalam film ini sebenarnya sangat sederhana, yaitu berbuat baik dan selalu berpikiran positif terhadap siapa, apa, dan dimana. Meski sederhana, tetapi dibungkus dengan ketidak sederhanaan. Karakter Phill yang sarkastik dan acuh, mendapat pembelajaran atas peristiwa yang sama dan berulang-ulang dialaminya. Pada tahapan awal dia sangat bosan. Tetapi semakin lama ia menyadari, maka dari situlah dia mulai belajar untuk memanfaatkan waktu dan peristiwa yang terus berulang tersebut. Plot yang digunakan dalam Groundhog Day ini bisa dikatakan menjadi inspirasi untuk film generasi yang lebih baru, Source Code (2006) dan Edge of Tomorrow (2014). Overall, Groundhog Day adalah film yang bagus, lucu, dan menghibur. Meski pesan yang terkandung di dalamnya bisa dikatakan sangat sederhana.   
ATAU
9 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !