Sabtu, 02 Mei 2015

HOUSE OF FLYING DAGGERS [2004]



Apa yang paling diingat ketika menonton film laga dari Tiongkok ? Martial Art nya tentunya. Tapi sebenarnya tidak hanya martial art nya saja yang mengagumkan, bisa jadi itu adalah tata suaranya, kostum, koreografinya, landscape nya, dan masih banyak lagi tentunya. Saya salah satu penggemar film-film laga dari Tiongkok, khususnya film laga lawas yang dibintangi Jackie Chan atau Bruce Lee. Hingga kini pun, film-film lawas tersebut masih saja asyik untuk ditonton. Ada perasaan khusus ketika menontonnya, menjadi teringat masa kecil serta membayangkan berada di Tiongkok dengan setting bangunan yang lawas pula. Yeah, saya memang penyuka old fashion.
 Film-film Tiongkok mulai diakui secara internasional dengan boomingnya Crouching Tiger Hidden Dragon (2000) karya sutradara Amerika kelahiran Taiwan, Ang Lee (Brokeback Mountain, Life of Pi). Tak tanggung-tanggung, karyanya tersebut mendapat pengakuan sebagai film berbahasa asing terbaik di Academy Award. Saya setuju mengingat CTHD adalah salah satu film Tiongkok favorit saya.
Berikut ini ada film laga bagus meski sudah cukup lama terdengar gaungnya. Dengan bintang yang sama di CTHD, Zhang Ziyi, yang berperan sebagai mata-mata buta dari organisasi bawah tanah, House of Flying Daggers. Bersettingkan Tiongkok tahun 859 M, dimana Dinasti Tang mengalami kemunduran akibat merebaknya kasus korupsi serta kerusuhan dari kelompok pemberontak. House of Flying Daggers lahir dari kebobrokan pemerintahan yang korup, memaksa para anggotanya untuk berjuang secara gerilya ala Robin Hood.

Kapten Leo (Andy Lau) dan Kapten Jin (Takeshi Kaneshiro) adalah petugas keamanan daerah yang mendapat tugas untuk menangkap salah satu mata-mata dari HoFG yang menyaru sebagai penari di Pavilyun Peony. Keberadaan sang mata-mata yang bernama Xiao Mei (Zhang Ziyi) pun terbongkar dan berhasil ditangkap oleh Kapten Leo. Untuk memuluskan rencana, Kapten Leo meminta Kapten Jin untuk berpura-pura menyelamatkan Xiao Mei serta mengikutinya menuju sarang HoFG. Benih-benih cinta pun muncul di antara Kapten Jin dan Xiao Mei. Selama pelarian tersebut, Kapten Jin dan Xiao Mei berkali-kali diserang oleh pasukan yang dikirim oleh sang jendral dan sama sekali tidak menyadari keberadaan Kapten Jin yang menyamar. Dalam keadaan terhimpit tersebut, muncul seseorang yang tiba-tiba menolong mereka. Siapakah orang misterius yang menyelamatkan mereka berdua tersebut ? Dan bagaimana kelanjutan perasaan dari Kapten Jin dan Xiao Mei, setibanya di markas HoFG ?

Setelah menikmati hampir 2 jam, saya merasakan pengalaman luar biasa dalam menikmati film laga Tiongkok. Colourful, koreografi-set decor-sinematografi indah dari landscape Ukraina nge-blend menjadi sajian yang istimewa. Lihat bagaimana ketika Kapten Jin dan Xiao Mei bertarung melawan para prajurit di padang bunga, sungguh indah dengan iringan skoring dari Shigeru Umebayashi yang dapat memacu adrenalin, dipadu pula martial art yang di mix dengan Matrix Style. Jangan lupa pula adegan pertarungan di hutan bambu yang mana menjadi ciri khas sebagian besar film-film laga Tiongkok, mengingatkan saya pada salah satu adegan dalam CTHD. 

Bahkan, kisah romance yang dibangun di sini jauh lebih baik dari CTHD, menurut saya. Cinta segitiga antara Kapten Jin-Mei-Kapten Leo berhasil dieksekusi dengan apik. Faktor yang membuat HoFG menarik adalah bagaimana membuat banyak plot twist dengan cerita tentang penghianatan dan saling tipu sana dan sini berhasil mengaduk-aduk emosi penonton. Meski ada sedikit kekurangan pada sebab mengapa Kapten Jin dan Kapten Leo bertempur terakhir kali, tetap tidak mengurangi keindahan secara keseluruhan film ini. Bagaimana akhir dari organisasi HoFG, tidak dijelaskan secara pasti. Jawaban kembali ke penonton.  

ATAU
9 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !