Senin, 11 Mei 2015

LOST IN TRANSLATION [2003]

**FILM SUPER**

Apa jadinya jika Anda berkunjung ke sebuah negara yang mana bahasa ibunya bukan Bahasa Inggris dan Anda tidak mengerti pula bahasa resmi negara tersebut ? Tentunya Anda sangat kebingungan jika akan berkomunikasi. Lebih parahnya lagi Anda hanya sendiri dan tidak memiliki teman untuk diajak bicara. “ketersesatan” itulah tema yang diangkat menjadi film oleh Sofia Coppola, putri Francis Ford Coppola sang sutradara trilogi Godfather.

Ini adalah pertama kalinya aktor Bob Harris (Bill Murray) dari Amerika tiba di negeri sakura, Jepang. Terlihat sekali dari raut mukanya yang merasa asing dengan gemerlap kota Tokyo. Kedatangan Harris ke Jepang adalah dalam rangka syuting produk minuman beralkohol terkenal dari Jepang. Setibanya di hotel, bukannya langsung istirahat, ia malah memilih minum-minum di bar, karena tidak bisa tidur. Di tempat lain, Charlotte (Scarlett Johansson) juga tidak bisa tidur malam itu. Kedatangannya di Jepang bersama suaminya, John (Giovanni Ribisi) dalam rangka pemotretan. Ketika John sibuk bekerja, biasanya Charlotte ditinggal sendiri di kamar hotel. Hal tersebut membuatnya bosan dan memilih untuk jalan-jalan ke luar menikmati setiap sudut kota Tokyo. Pagi itu juga, Harris menjalani syuting iklan pertamanya di Jepang. Meski sang sutradara tidak bisa bahasa Inggris, ada penerjemah yang akan membantu Harris. Syuting untuk hari itu tidak berjalan dengan lancar, karena Harris diminta sang sutradara untuk mengulang adegan berkali-kali. 

Malamnya, Harris pergi ke sebuah bar untuk minum-minum. Di sanalah ia beradu pandang dengan Charlotte yang sedang duduk bersama suami dan rekan kerjanya. Terlihat sekali kalau Charlotte sangat bosan dengan keadaan itu, lalu ia menawarkan minuman pada Harris. Hingga beberapa malam berikutnya mereka sering bertemu dan ngobrol malam hari di bar. Tampak sekali kalau mereka berdua sebenarnya kesepian dan butuh teman untuk ngobrol. Meski Charlotte dan Harris baru bertemu, tapi mereka langsung akrab sekali. Banyak hal bisa mereka jadikan bahan untuk ngobrol. Malam besuknya, Charlotte mengajak Harris jalan-jalan dan memperkenalkannya pada beberapa teman Jepangnya. Malam itu benar-benar dinikmati Charlotte dan Harris, mereka pergi ke bar, pachinko, dan berkaraoke. Bagaimana petualangan seru Charlotte dan Harris selanjutnya di negara yang tidak mereka kuasai bahasanya ?  

Akting Bill Murray sangat sangat luar biasa bagus di film ini. Ia sukses berakting dengan wajah yang sangat datar dalam memainkan peran sebagai Bob Harris, seorang aktor yang ‘lelah’ dan kesepian. Film ini berfokus pada sosok Bob Harris dan Charlotte yang merasa kosong dan hambar ketika melalui hari-harinya di Jepang. Charlotte adalah pribadi yang kesepian, meski ia bersama sang suami, tapi ia tidak merasakan kedekatan. Ia sering berkumpul dengan rekan kerja suaminya, tapi baginya tidak ada yang membuatnya akrab dengan apa yang mereka bicarakan. Bob Harris pun juga begitu, jauh dari istri dan anaknya di Amerika, membuat ia kesepian. Keterbatasan dalam berbahasa juga, menjadi kendala bagi Charlotte dan Harris mencari teman yang bisa diajak bicara. 

Walaupun karakter Bob Harris ditampilkan dengan wajah yang datar dan jarang bercanda, tapi banyak sekali momen lucu yang membuat saya tertawa geli. Seperti percakapannya dengan fotografer Jepang dan seorang wanita penghibur yang Bahasa Inggrisnya membuat ia bingung mengartikan, terutama ketika orang Jepang mengucapkan “L” menjadi “R”. Wanita tersebut meminta Harris untuk merobek stokingnya dengan berkata “LIP”, tapi Harris malah mengiranya ia diminta untuk “menciumnya”, karena LIP berarti “bibir”. Padahal apa yang ingin diucapkan wanita tadi adalah “RIP”, yang artinya “robek”. Jadi sekiranya apa yang dirasakan oleh Harris tadi tercermin pada judul film ini yang memiliki arti “tersesat dalam penerjemahan”.  

Beberapa adegan dalam Bahasa Jepang tidak diberikan hard-sub, supaya penonton juga merasakan “ketersesatan” yang dialami Harris dan Charlotte. Yang ingin saya soroti lebih dalam lagi adalah latar belakang dari Charlotte dan Harris. Mereka berdua sama-sama sudah berkeluarga, tapi dari yang saya lihat adalah mereka tidak memiliki kedekatan yang lebih dengan masing-masing pasangannya, baik itu Charlotte dengan suaminya atau Harris dengan istrinya. Lucunya, Charlotte dan Harris serasa menemukan “belahan jiwa” dan chemistri kuat di antara mereka, di negara asing pula. 

Tapi yang perlu diingat, bahwa mereka tidak bisa melewati “batas” lebih jauh lagi, karena masing-masing sudah berkeluarga. Selain itu, masih banyak lagi momen-momen lucu dari Charlotte dan Harris yang tidak mungkin saya tuliskan semua di sini. Singkatnya, mereka adalah pasangan Amerika yang merasa sangat asing di negeri orang, baik dari segi bahasa dan lingkungan, lalu terciptalah kelucuan dari keterasingan mereka tadi. Lost in Translation ditutup dengan ending yang misterius, ketika Harris membisikkan sesuatu pada Charlotte. Saya sebagai penonton tidak tahu apa yang dibisikkan. Dari info yang saya dapat, Scarlett Johansson sendiri juga tidak tahu apa yang dibisikkan oleh Bill Murray dalam adegan itu. Luar biasa bukan ?

ATAU
9,5 / 10

6 komentar:

  1. Film terfavorit gue sampai saat ini. Film yang entah bagaimana klik banget di hati gue, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget mas lutfi. saya setuju

      sebenarnya saya udah cukup lama sekali nonton lost in translation ini. tapi, reviewnya memang baru kemarin saya nulisnya.

      mohon maaf ya mas kalo ada detail yang sempat lewat dari filmnya, dan tidak saya masukkan dalam ulasan. soalnya saya juga perlu me rewind lagi, karena ada yg lupa lupa ingat. hehehe

      Hapus
  2. Makasih reviewnya mas.. baru nonton ini film dan langsung membekas di hati

    BalasHapus
  3. Makasih reviewnya mas.. baru nonton ini film dan langsung membekas di hati

    BalasHapus
  4. Okean mana gan ceritanya sama Eternal Sunshine?

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !