Rabu, 20 Mei 2015

WILD TALES [2014]


Sesuai dengan judulnya, film ini berisikan ‘kisah-kisah liar’ yang terbagi menjadi 6 chapter. Masing-masing chapter memiliki keunikan dan tingkat ‘keliaran’ sendiri-sendiri. Meski tidak memiliki hubungan antar chapter yang satu dengan yang lainnya, Wild Tales menghadirkan kisah liar yang didasarkan pada satu motif yang sama. Seberapa liarkah film Argentina garapan sutradara Damián Szifron ini, silakan Anda buktikan sendiri. 

Seorang model cantik mendapatkan tiket pesawat yang dikirimkan oleh seseorang yang sebelumnya tidak ia ketahui. Begitu ia di pesawat, ia mengobrol dengan seorang kritikus musik yang mengenal mantan pacarnya, Gabriel Pasternak. Mereka berdua sebenarnya memiliki pengalaman yang kurang baik dengan Gabriel Pasternak. Siapa sangka, semua orang yang ada di pesawat tersebut ternyata mengenal sosok Gabriel Pasternak. Ingat, semuanya mengenal. Chapter pertama ini sendiri diberi judul Pasternak, sesuai nama orang yang menjadi perbincangan paling ‘hangat’ saat itu. Lalu, mengapa semua orang di pesawat tadi bisa mengenal Gabriel Pasternak ?

Di tempat lain, seorang pelayan wanita memiliki dendam kesumat dengan seorang politikus korup yang telah menghancurkan keluarganya. Malam itu, sang politikus korup mampir ke restoran tempat ia bekerja. Temannya menyarankan ia untuk membunuhnya dengan racun tikus, daripada harus mengomelinya saja. Pelayan tadi tidak berani mengambil risiko lebih. Justru temannya lah yang telah memasukkan racun tikus ke makanan politikus korup tadi tanpa ia ketahui. The Rats, itulah judul untuk chapter kedua ini yang mengambil nama dari racun tikus untuk membunuh seorang koruptor yang bagai ‘tikus’ pula. Masih tersisa 4 chapter seru lainnya yang menghadirkan ketegangan dan keliaran dari manusia yang dilatari oleh dendam.

Gambar-gambar hewan liar ditampilkan selama opening credit berlangsung semakin menekankan bahwa Wild Tales berisikan kisah-kisah liar di dalamnya. Uniknya lagi, jumlah hewan liar dari masing-masing gambar juga disesuaikan dengan jumlah daftar cast & crew yang ditampilkan. Chapter Pasternak yang digunakan sebagai pembuka sangat pas sekali. Benar-benar meningkatkan tensi saya dan semakin membuat penasaran untuk mengikuti chapter-chapter berikutnya. Untuk chapter kedua, The Rats, memang tidak se-massive chapter pertama, tetapi masih tetap asyik untuk diikuti dan tidak di luar jalur. Untuk chapter favorit saya sendiri adalah chapter keempat yang berjudul Little Bomb. Di antara keenam chapter, menurut saya chapter Until Death do Us Part di bagian penutup memang mengalami penurunan skala dan tidak se’gila’ yang saya harapkan, jika dibanding dengan chapter-chapter sebelumnya. 

Semua kegilaan dari karakter yang ditampilkan dalam Wild Tales adalah berlatar belakang satu, yaitu dendam. Pada dasarnya, tidak ada kaitan cerita antar chapternya, tetapi semua masih satu jalur dengan mengangkat tema keliaran manusia yang didasari sifat dendam. Wild Tales sendiri dibalut dengan dark comedy yang kuat dan di balik itu menyimpan sindiran kepada manusia bahwa ketika mereka dikuasai dendam dan mengesampingkan sisi kemanusiaan, maka tidak ada bedanya dengan hewan liar. 

Ketika menonton Wild Tales, sebenarnya tensi saya sendiri berjalan naik turun selama film berlangsung. Ada chapter yang dihadirkan begitu gilanya, tapi ada juga yang begitu kendor, terutama di bagian akhir. Cerita yang dihadirkan di Wild Tales sendiri sebenarnya juga tidak jauh-jauh dari apa yang sering terjadi di sekeliling. Dendam dengan orang-orang terdekat, akibat penghinaan, sewenang-wenangnya orang yang berkuasa, hingga rumitnya birokrasi semua dibungkus menjadi satu sajian yang menghibur. Beberapa momen lucu bernuansa dark comedy yang memorable di sini antara lain seperti pelayan di chapter dua yang ragu bahwa racun tikus yang akan digunakan untuk membunuh sudah kadaluarsa atau belum. Dan lagi, di tengah adegan perkelahian serius di chapter 3 yang berjudul The Strongest, tiba-tiba secara tidak sengaja lagu pop romantis dari radio tape berbunyi mengiringi perkelahian tadi.   

Jika diresapi lebih dalam lagi, segala hal chaostic yang terjadi di sini sebenarnya tidak bisa ditilik antara siapa yang benar dan siapa yang salah. Szifron selaku sutradara ingin menampilkan dampak buruk dari pembalasan dendam. Tidak peduli siapa yang berbuat salah lebih dahulu atau apa perbuatan buruk yang diterima dari orang lain, tidak selayaknya meladeni dengan pembalasan dendam, atau pada akhirnya hanya akan menjadi hewan liar yang nyata. Meski Wild Tales sendiri memiliki kekurangan di beberapa aspek seperti ketidakseimbangan porsi dari masing-masing chapter, tapi tetap menjadi sajian yang berkualitas bagus, penuh dengan ide kreatif, dan tidak lupa ‘menghibur’.  

ATAU
8,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !