Rabu, 27 Mei 2015

CHAPPIE [2015]

Setelah District 9 (2009) dan Elysium (2013), sutradara asal Afrika Selatan, Neil Blomkamp kembali lagi dengan film sci-fi yang tidak lepas dari trademarknya, Afsel & Johannesburg, robot, serta kekacauan dan banyak ledakan yang cukup ‘menyakitkan’ mata. Chappie berfokus pada robot yang memiliki kecerdasan buatan, yang dalam perkembangannya mampu bertindak patuh dan memberontak.

Berbagai tindakan kriminal benar-benar merajalela di kota Johannesburg. Polisi sudah tidak sanggup lagi membendung setiap kekuatan dari para gangster. Banyak anggota polisi yang tewas dalam setiap tugas menangani kerusuhan yang disebabkan para gangster tersebut. Kepolisian kemudian mengambil kebijakan untuk mempersenjatai diri dengan membeli robot polisi yang disebut Scout. Diproduksi oleh perusahaan robot bernama Tetravaal, Scout berhasil menurunkan angka kriminalitas di kota Johannesburg.

Salah satu dari Scout dengan nomor seri 22, harus dimusnahkan akibat kerusakan yang sangat berat. Tapi kemudian berhasil diurungkan oleh penciptanya sendiri, Deon Wilson (Dev Patel) yang kemudian memberikan robot tersebut artificial intelligence/kecerdasan buatan. Sialnya, Deon diculik oleh sekelompok gangster dan kemudian menjadikan Scoutt 22 menjadi anak buahnya untuk berbuat kriminal. Scoutt 22 berhasil dilatih oleh para gangster lalu kemudian diberi nama baru, Chappie (Sharlto Copley). Ancaman datang dari salah satu developer Tetravaal, Vincent Moore (Hugh Jackman) yang sebelumnya menentang keras kecerdasan buatan dalam robot. Dengan robot penghancur buatannya yang bernama Moose, ia mencoba mengendalikannya dengan kekuatan pikiran.

Sejak menit-menit awal saya sudah tahu akan ke mana perginya Chappie ini. Chappie bukanlah film yang bagus atau pun menghibur, dan saya juga tidak menyebutnya ‘murahan’. Tapi saya harus selesaikan apa yang telah saya mulai. Johannesburg, gangster, setting penuh kehancuran, lagi-lagi semuanya muncul di sini. Aktor asal Afrika Selatan, Sharlto Copley, merupakan sebuah kewajiban untuk muncul di film-film Blomkamp. Bedanya, Copley di sini hanya berperan sebagai voice actor bagi karakter Chappie. Adegan dibuka dengan menambahkan footage dari komentar para pengamat (robot), banyak mengingatkan saya dengan District 9. Untunglah, para komentator tersebut hanya ditampilkan di bagian awal saja. Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi, jika Blomkamp kembali mengulang hal yang sama lagi dan lagi dengan para komentator di sepanjang film. 

Tidak ada yang baru di Chappie, ide cerita tentang teknologi robot yang akan membantu manusia mengurangi kriminal, sepertinya sudah sangat banyak sekali dipakai. Bentuk para Scout ini pun nyaris sama persis dengan para robot polisi yang muncul di Elysium, dan Blomkamp sepertinya belum mau move on dari trademarknya tersebut. Atau jika boleh, saya menyebutnya dengan Blomkamp Universe. Yang paling membuat saya jantungan adalah, mengapa harus ada lagi giant robot seperti Moose yang ada di District 9 atau juga di Robocop (ED-209).  Tidak ada dialog yang bagus, begitu juga dengan akting. Maaf saja bila saya menyebutnya ‘kacangan’. Saya sebenarnya masih memaklumi akting Ninja dan Yo-Landi Visser, yang notabene mereka adalah seorang rapper aliran rap-rave dari sebuah grup musik bernama Die Antwoord. Tapi selain itu, semuanya benar-benar ‘kacangan’. Hugh Jackman ?, dia bukanlah siapa-siapa di sini selain ‘pria liburan’ dengan celana pendek di perusahaan robot.  

Blomkamp dalam mengakhiri Chappie juga masih sama dengan film-film sebelumnya, dimana ia tiba-tiba menghentikannya agar seolah-seolah ada sekuel. Tidak ada sekuel, saya jamin. Dan jikapun ada, sepertinya lebih bijak untuk tidak menontonnya. Sejauh Chappie berjalan, mata saya ‘cukup merasa lelah dengan banyak adegan tembak-tembakan dan ledakan yang diumbar di sini. Saya sangat lelah dan ekspresi wajah saya hanya cemberut untuk menunggu kapan film ini berakhir. Tapi untuk mengulas sebuah film, saya rasa tidak ada pilihan lain selain menyelesaikannya. Jika boleh memberikan saran, sebaiknya Chappie dikemas saja dengan format animation, setidaknya akan menjadi ‘lumayan’ bagus, meski kenyataannya masih sangat jauh sekali dari kata “bagus”. Tidak ada scene memorable, best scene, atau apa saja sebutannya di Chappie ini. Semua membosankan. Parahnya lagi, saya bahkan tidak melt di beberapa adegan yang sudah seharusnya saya merasakan hal tersebut. Tidak ada yang lebih bagus selain musik gubahan dari Hans Zimmer dan lagu dari Die Antwoords yang berjudul Cookie Thumper ketika mengiringi closing credit.  
ATAU
4,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !