Selasa, 19 Mei 2015

INTERSTELLAR [2014]

Jika saya ditanya apa film genre sci-fi terbaik yang pernah saya lihat, maka akan saya jawab 2001 : A Space Odyssey (1968) yang mana merupakan karya besar seorang Stanley Kubrick. Tapi lebih dari itu, 2001 sudah ‘melebar’ menjadi ‘film terbaik’ bagi saya, jadi tidak hanya di genre sci-fi. Benarkah, jika film terbaik bagi saya itu menjadi inspirasi bagi sutradara yang dikenal membuat film-film berkonsep rumit, Christopher Nolan, dalam membuat Interstellar ? 

Di masa depan, bumi dalam keadaan yang sangat kritis. Wabah hawar menghancurkan berbagai macam tanaman, terutama jagung, okra, dan gandum yang mana merupakan sumber pangan manusia. Dalam keadaan yang sulit seperti itu, perkembangan populasi manusia diambang kehancuran. Aspek perkembangan teknologi dan sains sudah bukan merupakan fokus utama lagi, melainkan bagaimana meningkatkan jumlah populasi manusia melalui aspek agrikultur. Intinya, para insinyur sudah beralih menjadi petani. Cooper (Matthew McConaughey) adalah mantan pilot uji coba NASA, ia kini menjadi seorang petani jagung sebagai imbas ditutupnya NASA. Bersama dengan kedua anaknya, Tom (Timothée Chalamet) dan Murphy (Mackenzie Foy) dan ayah mertuanya, Donald (John Lithgow), mereka hidup dengan damai di sebuah rumah kecil dekat ladang jagungnya. Sesekali, mereka harus melindungi diri dari badai pasir yang tiba-tiba saja menyerang.

Suatu ketika setelah badai pasir datang, Cooper mendapati sebuah bilangan biner di depan rak buku milik Murphy. Awalnya, Murphy mempercayai itu merupakan perbuatan dari ‘hantu’, bahkan beberapa bukunya tiba-tiba jatuh sendiri dari rak. Tapi pernyataan itu kemudian disanggah oleh Cooper yang selalu berpikiran rasional dan mengatakan bahwa ‘hantu’ bukanlah hal ilmiah. Dari bilangan biner tadi, Cooper mendapatkan sebuah koordinat. Bersama dengan Murphy, ia berangkat menuju tempat yang ditunjukkan oleh koordinat tadi. Awalnya, Cooper dianggap penyusup oleh robot bernama TARS, tapi kemudian datanglah Dr. Amelia Brand (Anne Hathaway) yang kemudian mengajaknya ke ruang pertemuan yang di sana ada ayahnya, Prof. Brand (Michael Caine). Prof. Brand sengaja membangun NASA secara rahasia dalam proyek peluncuran pesawat Ranger untuk mencari planet yang penuh dengan sumber daya yang dapat digunakan dan ditempati oleh manusia. Cooper pun dipilih oleh Prof. Brand untuk terlibat dalam misi Lazarus. Meski awalnya Cooper sedikit keberatan, tapi Prof. Brand berhasil meyakinkannya. Bagaimanakah kelanjutan petualangan Cooper dan lainnya di luar angkasa ? Serta apa yang terjadi dengan Murph dan Tom ketika harus ditinggalkan oleh Cooper ?

Dari aspek cerita, jelas Interstellar tidak ‘menyinggung’ 2001 sama sekali. Interstellar sendiri bercerita tentang perjuangan beberapa pilot NASA dalam mencari planet baru demi masa depan peradaban manusia. Sedangkan 2001 sendiri menurut saya lebih ke perjalanan ‘spiritual’ (seperti Prometheus) dan beberapa tambahan konsep lainnya, seperti evolusi. Tapi, tidak bisa dipungkiri ada beberapa momen pada Interstellar yang mengingatkan saya pada 2001, seperti saat Cooper melewati celah Black Hole mirip dengan Dave Bowman di 2001 saat terjatuh dan kemudian melewati Star Gate (Trippy Effect ?). Ada lagi, penampakan pesawat Ranger dan Endurance yang sangat mirip sekali dengan pesawat Orion dan Space Station 2001. Ketika pertama kali saya menonton trailernya, betapa kagetnya saya ketika melihat penampakan dari Endurance ketika berputar dan benar-benar sangat mirip sekali dengan Space Station 2001. Terbesit pertanyaan dalam diri, mungkinkah Interstellar akan dibuat surealis seperti 2001 ? Pikir saya ketika itu.

Banyak kritik yang dilayangkan kepada Nolan, terutama dari mereka yang tahu banyak mengenai ilmu fisika. Saya sendiri sebenarnya tidak ingin mengaitkan unsur yang benar-benar real fisika dengan fisika ala Nolan di Interstellar. Lagipula memang saya juga bukan orang yang ahli di fisika. Saya hanya ingin melihatnya sebagai sebuah sajian berupa film dan dari sudut pandang itulah saya akan menilai.  

Dilihat dari aspek visual dan set decor, Interstellar memang sudah mumpuni di bagian itu, meskipun untuk di era ini saya sudah tidak merasakan keterkejutan yang berlebih. Bahkan, saya sebenarnya jauh lebih terkesan dengan visual CGI yang ditampilkan di Inception (2009) daripada di Interstellar ini. Tapi, aspek drama yang ditonjolkan Nolan di sini patut diacungi jempol. Benar-benar luar biasa. Drama yang dibuat benar-benar heartwarming dan mempermainkan emosi dengan mengangkat tema cinta yang kuat dari ayah dan anak meski harus melintasi perbedaan ruang dan waktu. Hal yang sama sebenarnya sudah ada di Contact (1997) karya Robert Zemeckis, film sci-fi yang juga menonjolkan kedekatan hubungan ayah dan anak, di mana McCounaghey juga turut berperan di situ. 

Dialog yang ditulis sendiri oleh Nolan bros. juga sangat bagus, dipadu pula dengan sound yang saya rasa sangat familiar dengan 2001. Bahkan, menjelang menit-menit akhir, fitur dari Inception seperti Distorting The City kembali lagi ditampilkan oleh Nolan di sini. Satu hal yang sedikit membuat kekecewaan saya adalah bagaimana Nolan menampilkan twist di akhir yang dirasa tidak terlalu ‘gila’ untuk sutradara sekelasnya. Memang pasti banyak yang menganggap twist ouroboros tadi merupakan twist yang sangat mind-blowing dan membingungkan banyak orang, tapi bagi saya sendiri sangat standart dan sudah bukan merupakan hal yang baru lagi untuk mempermainkan nalar para penontonnya. Tapi di luar itu, Interstellar sudah ‘menang’ dalam hal pengangkatan humanisme yang sangat kuat, di mana sangat jarang sekali ditemui di film-film sci-fi. Saya sendiri pun hingga kini terkadang masih terharu jika mengingat perpisahan jarak antara Murphy dan Cooper. Sungguh kekuatan cinta yang kuat dari ayah dan anak yang tidak dapat diputus sekalipun harus terpisah jauh baik ruang maupun waktu.        
ATAU
8,5 / 10

1 komentar:

AYO KITA DISKUSIKAN !