Minggu, 24 Mei 2015

FARGO [1996]

**FILM SUPER**
Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya di review The Big Lebowski (1998), film-film karya Coen bros. sering memasukkan adegan kejar-kejaran dengan koper berisikan uang. Begitu juga dengan Fargo ini yang di dalamnya tidak lupa Coen tambahkan unsur dark comedy yang kental. Diangkat dari kisah nyata, selama 98 menit ke depan, Anda akan menikmati salah satu film crime terbaik dan menegangkan yang pernah dibuat.   

Jerry Lundegaard (William H. Macy) adalah seorang manajer penjualan di sebuah dealer mobil milik ayah mertuanya, Wade (Harve Presnell) yang kaya raya. Hidupnya tenang dan damai beserta istrinya, Jean (Kristin Rudrüd) dan seorang putra. Semua berubah ketika ia sangat membutuhkan banyak uang dengan jalan memeras ayah mertunya. Tapi tentu saja ia tidak melakukannya sendiri. Ia berinisiatif menyewa penjahat yang akan diskenario untuk berpura-pura menculik istrinya, Jean, lalu meminta uang tebusan pada ayah mertuanya, Wade. Melalui salah satu kenalannya, ia dikenalkan dengan penjahat yang akan diminta untuk menculik, Gaear Grimsrud (Peter Stormare). Di sebuah bar di Fargo, Dakota Utara, Jerry kemudian menyusun rencana dengan Gaear, yang ternyata juga bersama temannya, Carl Showalter (Steve Buscemi). Meski awalnya ada sedikit perdebatan dengan 2 penjahat sewaan tersebut, akhirnya Jerry menyetujui dengan memberikan mobil baru sebagai pembayaran di muka, disusul dengan uang tebusan kemudian. 

Penculikan pada Jean pun berhasil, bahkan dilakukan oleh Carl dan Gaear di siang hari. Kemudian, Jerry pun meminta Wade untuk membayar uang tebusan sebesar satu juta dollar dan tanpa harus melibatkan pihak kepolisian. Di tengah perjalanan dalam membawa Jean, Gaear membunuh seorang polisi negara bagian yang mencurigai mereka dalam perjalanan menuju Brainerd, Minnesota. Tidak hanya itu, ia juga membunuh 2 orang yang sedang lewat karena memergokinya bersama Carl ketika membunuh polisi tersebut. Esok harinya, seorang polisi wanita dari Brainerd, Marge Gunderson (Frances McDormand) menyelidiki kasus tersebut. Satu persatu para saksi ditanyai, dan Jerry pun tidak bisa menghindari pertanyaan dari Marge. Berhasilkah rencana ‘busuk’ Jerry dalam memeras uang milik Wade ? Ataukah justru ia dan 2 penjahat sewaannya ditangkap Marge ?

Musik megah gubahan dari Carter Burwell mengiringi opening film dengan latar penuh salju serta diperlihatkan Jerry yang dalam perjalanan menuju Fargo untuk menemui Carl dan Gaear. Seperti film-film Coen bros. lainnya yang penuh dark comedy, maka Anda akan banyak menemukannya di sepanjang durasi Fargo ini. Seperti percakapan antara Carl dan Gaear dengan Jerry, dimana Carl menyarankan Jerry untuk meminta uang sendiri pada ayah mertuanya daripada harus repot-repot menyewa mereka untuk menculik istrinya. Sangat lucu bukan, seorang penjahat menyarankan hal ‘konyol’ tersebut yang sebenarnya tentu saja akan menghilangkan ‘pendapatan’nya. Memang itulah yang namanya dark comedy, segelintir ‘kelucuan’ yang hadir pada momen-momen di mana hal tersebut seharusnya tidak untuk ditertawakan, karena dalam konteks yang sangat serius.

Selain kental dengan dark comedy, tidak lupa Fargo juga dilengkapi dengan karakter-karakter yang unik dan absurd. Lihat saja duo penjahat Carl dan Gaear. Meski mereka berdua bermitra dalam usaha penculikan ini, tapi sebenarnya mereka sendiri tidak begitu akrab. Carl rupanya tipe orang yang suka bicara dan terkadang melucu, berbeda dengan Gaear yang sangat jarang bicara dan terkesan ‘berdarah dingin’. Dan lagi, ada momen dimana mereka berdebat dan sangat lucu sekali, seperti ketika Gaear mengamuk karena kelaparan dan memaksa berhenti untuk membeli pancake. Sedangkan Carl tidak tahan dengan asap rokok milik Gaear yang memenuhi mobil, serta ia sempat menasihatinya bahwa rokok dapat menyebabkan kanker. Ya, satunya penjahat ‘dingin’ tapi menyukai pancake, dan satunya penjahat yang benci rokok. Marge Gunderson, polisi dari Brainerd yang menangani kasus tersebut juga tidak luput dari sentuhan dark comedy Coen bros. Bayangkan saja, kasus pembunuhan ditangani oleh seorang polisi yang hamil tua lengkap dengan aksen khas saat berkata, ya.....ya....ya. 

Memang sempat ada momen-momen yang saya rasa ‘sedikit’ kurang relevan, seperti pertemuannya Marge dengan sahabatnya, Mike Yanagita (Steve Park). Mungkin saja Coen berusaha menyelipkan adegan tersebut untuk mempertegas karakter dari Marge sendiri. Meski adegan tersebut sedikit ‘kurang pas’, tapi tetap tidak mengurangi kualitas Fargo secara keseluruhan. Seperti hal lumrah yang ada dalam film-film crime, Fargo tentu saja dibangun dengan suasana yang mencekam dan menegangkan, bayangkan saja seorang yang tamak akan harta sampai rela menyewa penjahat untuk menculik istrinya, demi bisa memeras uang mertuanya. Suasana semakin mencekam ketika apa yang sebelumnya direncanakan oleh Jerry tidak berjalan dengan semestinya dan polisi pun mencium rencana ‘busuk’nya. Dari segi akting, saya paling suka dengan William H. Macy yang mampu tampil maksimal sebagai pria dengan tampang lugu tapi memiliki niat jahat di belakangnya. Steve Buscemi yang setelahnya muncul lagi di The Big Lebowski masih tetap dengan ciri khasnya yang selalu bermain sebagai orang bloon dan konyol, begitu juga ketika di Ghost World (2001).  

Adegan kejar-kejaran uang dalam koper, karakter absurd, dan dark comedy adalah bahan yang sering ada dalam film-film Coen bros. Selain itu, rupanya saya menemukan lagi ciri khas yang selalu ada di filmnya, yaitu suasana yang kental sekali dengan Amerika. Lihat saja seperti No Country for Old Men (2007), O Brother, Where art Thou? (2000), hingga True Grit (2010), semua banyak menampilkan set lokasi seperti midwest yang merupakan daerah khas di Amerika. Di Fargo inipun juga begitu. Coen bros. berusaha menampilkan potensi yang dimiliki oleh daerah-daerah di Amerika. Di salah satu adegannya, Anda akan menemui sebuah patung di pinggir jalan yang disebut Paul Bunyan, disusul dengan adegan di sebuah motel bergambar banteng bernama Blue Ox. Paul Bunyan dan Blue Ox sendiri merupakan landmark dari daerah Minnesota. Overall, Fargo merupakan salah satu film crime terbaik yang pernah saya tonton dan salah satu dari karya Coen bros. favorit saya. Ketegangan serta kelucuan dikemas menjadi satu dan rapi.
ATAU
9 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !