Selasa, 12 Mei 2015

PERFUME : THE STORY OF A MURDERER [2006]

**FILM SUPER**

Obsesi bisa disebut sebagai salah satu fitrah seorang manusia. Tapi bagaimana jika obsesi tersebut untuk menemukan sesuatu yang masih misteri keberadaannya. Lebih menyeramkannya lagi, banyak nyawa tidak berdosa melayang menjadi jembatan pemulus obsesi tadi. Diangkat dari novel laris karya Patrick Süskind yang berjudul sama tahun 1985, Perfume sukses menjadi fantasy thriller yang menegangkan dan indah di beberapa bagiannya.
Jean-Baptiste Grenouille (Ben Whishaw) lahir di pasar ikan kota Paris, tempat terbusuk ketika itu. Ibunya melahirkannya ketika sedang berjualan ikan. Seperti saudara sebelumnya, Jean-Baptiste akan dibuang oleh ibunya karena tidak mampu menghidupinya. Tangisan Jean-Baptiste membongkar kejahatan ibunya yang kemudian berakhir di tiang gantungan. Sejak kecil, Jean-Baptiste sudah memiliki kemampuan luar biasa dibanding manusia lainnya, yaitu kemampuannya dalam mencium bau sesuatu. Kemampuan tersebut membuat ia ditakuti oleh teman-temannya dan yang tersisa hanya kesendirian. Banyak sekali bau dari benda yang telah ia kenali, tapi ia masih perlu banyak lagi untuk melihat dunia luar dan menemukan bau yang belum pernah ia temui.

Hingga dewasa, Jean-Baptiste telah berpindah-pindah kepemilikan. Setiap orang yang ia tinggal untuk pindah ke orang lain, tidak berapa lama orang tersebut pasti akan mati. Dalam perjalanannya di kota, ia mencium banyak sekali bau baru yang belum pernah ia cium sebelumnya. Di antara semua bau itu, ia dapatkan bau paling harum di antara lainnya, yaitu bau dari seorang gadis. Kemudian ia datangi gadis itu dan menciumi seluruh tangannya. Melihat perlakuannya, gadis itu melarikan diri dan berhasil dikejar Jean-Baptiste. Agar tidak berteriak, Jean-Baptiste kemudian membekapnya, dan tanpa disengaja gadis itu tewas. Jean-Baptiste tidak lagi merasakan bau harum yang muncul dari tubuh gadis itu.

Pagi itu, Jean-Baptiste mengantarkan kulit dari tempatnya bekerja di penyamakan ke rumah Giuseppe Baldini (Dustin Hoffman), seorang pembuat parfum terkenal yang mulai tergeser oleh pembuat parfum baru yang lebih wangi. Sebelumnya, Giuseppe mencoba parfum dari saingannya, “Amor & Psyche”. Jean-Baptiste yang memiliki penciuman paling tajam mengetahui parfum tersebut, karena ia sempat menciumnya dalam perjalanan ke kota. Ia kemudian meyakinkan Baldini bahwa ia dapat menciptakan parfum yang persis dengan “Amor & Psyche”, bahkan lebih wangi dari itu. Awalnya ia hanya jadi bahan cemoohan Baldini. Dengan lancarnya, Jean-Baptiste mencampurkan semua bahan di gudang penyimpanan Baldini. Parfum “Amor & Psyche” dan yang lebih wangi pun selesai. Baldini mencobanya dan tidak tahu lagi apa yang ingin ia katakan dengan kemampuan luar biasa tersebut. 

Jean-Baptiste memohon Baldini untuk mempekerjakannya dan mengajarkan cara untuk menyimpan bau agar awet. Tidak berapa lama, toko Baldini kembali laris. Suatu ketika, Baldini menceritakan mitos pada Jean-Baptiste tentang 12 esensi yang membuat orang yang menciumnya serasa di surga. 12 esensi dapat diketahui, namun yang ke 13 masih menjadi misteri. Berbekal mitos dan perkataan Baldini bahwa “jiwa manusia adalah bau mereka”, Jean-Baptiste semakin terobsesi untuk bisa menangkap bau. Pergilah ia ke kota pembuat parfum, Grasse, atas restu Baldini. Seperti yang saya tulis sebelumnya, Anda pasti sudah bisa menjawab apa yang terjadi kemudian pada Baldini setelah ditinggal Jean-Baptiste. Dapatkah Jean-Baptiste mendapatkan 13 esensi dengan berbekal mitos tersebut ?

Mulai dari menit-menit awal, Perfume sudah menunjukkan atmosfer yang benar-benar gelap dan kelam. Tapi di samping itu, banyak hal unik dan mungkin tak terjawab pada beberapa momen dalam film ini. Seperti kemampuan super Jean-Baptiste dalam mengenali semua jenis bau dan para “pemiliknya” yang pasti mati setelah ia tinggal pergi, termasuk ibunya. Saya tahu hal itu memang lucu dan sempat membuat saya tertawa, tapi sebenarnya sama sekali tidak patut untuk ditertawakan. Semua itu adalah bagian dari unsur dark comedy yang banyak tersebar sepanjang durasi. Anda masih akan menemukan banyak sekali dark comedy di sini, tapi saya sarankan untuk tidak “menertawainya”, karena hal tersebut merupakan tragedi nan miris. Yang paling membuat saya tertarik di sini adalah mendalami karakter dari Jean-Baptiste melalui gambaran dalam latar belakangnya. 

Jean-Baptiste, manusia dengan kemampuan sangat langka, kepekaan dalam mengenali bau. Tapi, kemampuan luar biasa Jean-Baptiste sendiri tidak diiringi secara seimbang dengan kemampuan indera lainnya. Ia sendiri baru bisa bicara ketika usia 5 tahun. Akibatnya, ia tidak bisa mendiskripsikan berbagai macam benda dengan kata, melainkan dengan bau. Tidak mengherankan sebenarnya. Jean-Baptiste besar tanpa bimbingan dan kasih sayang orang tua. Ia sendirian, karena temannya juga takut kepadanya. Jarang ada yang mengajak bicara, memang mempengaruhi kemampuannya dalam mengucap. Bertahun-tahun ia habiskan untuk bekerja tanpa mengenal dunia luar. Tentu saja hal tersebut juga berpengaruh kepada wawasannya (kecuali bau) dan psikologinya. Maka tidak heran ketika ia membunuh gadis di kota itu, tidak pernah terbesit rasa bersalah. Ya, karena dia sendiri tidak tahu hakikat membunuh dan akibatnya. 

Semua ini bercerita tentang obsesi dan kesempurnaan. Obsesi Jean-Baptiste yang tidak tahu dunia luar dalam mendapatkan 13 esensi menurut mitos. Serta kesempurnaan yang ia ingin raih dalam mendapatkan parfum paling harum se dunia. Kesalah pengertian Jean-Baptiste pada perkataan Baldini bahwa “jiwa manusia adalah bau mereka” kelak akan membawa petaka bagi banyak orang. Nah, pertanyaannya adalah “perlukah Jean-Baptiste” disalahkan dalam perbuatannya yang telah menghilangkan nyawa orang?” Melalui kacamata hukum, perbuatan Jean-Baptiste tentu salah. Tapi perlu diingat lagi, Jean-Baptiste tidak pernah membunuh untuk kesenangan. Dia membunuh hanya untuk “menenangkan” si korban dalam upayanya “mengekstrak” aroma tubuh manusia menjadi parfum. Ia sama sekali tidak pernah menyesal, karena ia sendiri tidak tahu apa itu “membunuh”. Maka boleh saja jika kata “kejam” tidak patut disematkan pada Jean-Baptiste. 

Kalau saya pikir lebih dalam lagi, rasanya “lucu” bagaimana orang yang “polos” dan berwawasan sempit dengan dunia luar seperti Jean-Baptiste mampu membuat kegemparan di kota Grasse. Para penegak hukum sampai memberlakukan jam malam, hingga uskup pun turun tangan. Ben Whishaw berakting bagus dalam memerankan Jean-Baptiste yang siap memburu dengan tatapan kosongnya. Dustin Hoffman juga bagus meski untuk aktor sekelasnya, kemunculannya bisa dikatakan sebentar. Jangan lupa pula adegan orgy yang memorable di menit-menit sebelum akhir. Perfume : The Story of A Murderer adalah pilihan tepat bagi penyuka thriller yang benar-benar bernuansa sangat gelap.

ATAU
9,5 / 10

1 komentar:

  1. Kalau saya agak kurang suka sama film adaptasi ini za. By the way, great review

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !