Kamis, 07 Mei 2015

BEASTS OF THE SOUTHERN WILD [2012]



Film sederhana karya debut sutradara Benh Zeitlin, secara keseluruhan memang sangat “indah”. Meski sederhana, baik dari segi cast yang belum begitu dikenal, budget, hingga “tampilan” luarnya ini dikemas dengan sangat apik dan tidak membosankan meski berkali-kali ditonton.

Bersettingkan di daerah yang dikelilingi banyak air dan tanggul bernama Bathtub, bisa jadi adalah sebuah daerah yang sangat rawan dengan banjir bila datangnya badai. Bathtub juga banyak dipenuhi barang-barang rongsokan dan hewan ternak, membuatnya sekilas nampak sebagai daerah yang kumuh dan kurang menyenangkan untuk ditinggal. Tapi tidak dengan halnya Hushpuppy (Quvenzhané Wallis), gadis kecil yang melalui hari-harinya di tempat tersebut dengan penuh kebahagiaan karena banyaknya orang-orang yang menyayanginya. Kehidupan Hushpuppy sungguh keras, sejak kecil ia telah kehilangan sosok seorang ibu, maka ia dibesarkan oleh ayahnya, Wink (Dwight Henry) seorang diri. Didikan ayahnya terhadap Hushpuppy sangatlah keras. Tak jarang Hushpuppy mendapat bentakan keras. 

Meski ia seorang gadis kecil, tapi Hushpuppy hidup dengan mandiri, ia mengerjakan semua halnya sendiri. Bahkan, ayahnya melatihnya mencari ikan dengan tangan kosong. Meski perlakuan Wink keras terhadap anaknya, tapi sesungguhnya ia sangat sayang sekali. Lingkungan kaum “pinggiran” yang keras telah membentuk karakter orang-orang yang tinggal di Bathtub. Suatu ketika, Hushpuppy sedang memasak makanan dengan menyalakan api yang terlalu besar. Akibatnya, kompornya meledak dan membakar rumahnya. Ayahnya marah sejadi-jadinya. Tapi Hushpuppy berusaha lari sekencang-kencangnya hingga dikejar oleh ayahnya meski akhirnya tertangkap dan sempat dipukul. Melihat perlakuan ayahnya yang dinilai kasar (meski sebenarnya sayang), Hushpuppy bergantian memukul ayahnya tepat di jantungnya hingga menyebabkan ayahnya tersungkur. Dalam keadaan kacau itu, Hushpuppy mendengar bunyi gemuruh yang menjadi tanda akan datangnya badai. Berhasilkah Hushpuppy dan ayahnya menyelamatkan diri dari badai tersebut ?
Mungkin tagline Home Sweet Home bisa jadi sangat pantas disematkan untuk film ini. Bagaimana keadaan Bathtub rawan bencana dan kumuh dengan penuh barang rongsokan, memang jauh dari kata indah. Tapi, bagi Hushpuppy dan mereka-mereka yang telah menghuninya selama bertahun-tahun, maka tiada rumah yang paling indah selain Bathtub. Tidak heran bila setelah badai menerjang dan memporak-porandakan Bathtub, sebagian besar warganya malah memilih bertahan untuk tinggal di sana. Membuktikan bahwa mereka sangat betah tinggal meski dalam keadaan dirundung becana. Bahkan, mereka sempat menolak dengan keras untuk dipindahkan, meski itu juga dibuat untuk keselamatan warga Bathtub sendiri.

Kesan fantasi nan indah juga dimunculkan pula di sini. Dampak dari badai yang menerjang Bathtub membangkitkan makhluk kuno yang disebut Aurochs. Meskipun di sini, kemunculan mereka bisa dibilang sangat sekilas. Bahkan, para Aurochs sempat pula berhadapan dengan Hushpuppy. Semua bergantung dari penonton bagaimana menilai Aurochs itu sendiri, bisa saja makhluk itu nyata ada atau sekedar imajinasi kreatif seorang anak kecil bernama Hushpuppy, seperti pula Ofelia menilai Faun dalam Pan’s Labyrinth (2006) atau Satsuki dan Mei menilai Totoro dalam My Neighbor Totoro (1988). Tapi secara pribadi, saya memiliki interpretasi bahwa Aurochs bisa jadi adalah refleksi dari “pihak-pihak” yang mencoba mengusir para warga Bathtub untuk mengambil keuntungan (bisa berupa tanahnya) dari sana. Mungkin tidak salah juga melihat pernyataan Hushpuppy yang mengatakan akan melindungi apa yang menjadi miliknya kepada para Aurochs. Akting Quvenzhané Wallis sangat bagus dan natural, meski saya lebih menyukai Dwight Henry dalam memerankan karakter Wink yang keras tapi sejujurnya baik hati. Dari info yang saya dapat, Dwight Henry yang seorang pembuat roti ini tidak pernah mendapat latihan khusus dalam beakting.

ATAU
9 / 10


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !