Selasa, 05 Mei 2015

ANNIE HALL [1975]

**FILM SUPER**

Woody Allen, salah satu sutradara kenamaan Hollywood ini memiliki trademark film-film bergenre Romance Comedy, lihat saja Annie Hall, Manhattan (1979), Match Point (2005), atau Midnight in Paris (2011). Dari kesemua filmnya, satu yang bisa dibilang pasti bahwa Annie Hall adalah mahakarya dari seorang Allen. Tidak jarang pula, banyak yang mengatakan bahwa Annie Hall menjadi inspirasi untuk (500) Days of Summer (2009). Tapi saya tidak akan membandingkan keduanya di sini.

Alvy Singer (Woody Allen) seorang stand-up comedian (comic) mencoba mencari tahu mengapa hubungannya dengan kekasihnya, Annie Hall (Diane Keaton) bisa berakhir. Bersama dengan temannya, Rob (Tony Roberts), perkenalan awal Alvy dan Annie terjadi saat mereka bermain tenis bersama. Ajakan Annie pada Alvy untuk pulang bersama pun diterima. Bahkan, Alvy pun bersedia mampir untuk minum-minum. Alvy yang biasanya canggung ketika berhadapan dengan orang lain, nampak memiliki ketertarikan kepada Annie, begitu juga sebaliknya. Hubungan mereka pun berlanjut semakin dekat, hingga mereka berpacaran. 

Annie bukanlah wanita pertama bagi Alvy. Ia sudah pernah menikah selama 2 kali meski kesemuanya berakhir dengan perceraian. Alvy adalah orang yang pesimis terhadap kehidupan. Bahkan sudah menjadi kebiasaannya untuk sarkastik terhadap orang lain. Di saat seperti itulah, Rob datang sebagai teman yang meluruskan segala pandangan Alvy tersebut. Singkat cerita, hubungan Alvy dengan Annie mulai renggang dan berakhir. Meski begitu, keduanya tetap saling mencintai satu sama lain. Di situlah Alvy mencoba mencari tahu apa yang melatar belakangi kandasnya hubungan mereka. Bagi Alvy sendiri, sebuah hubungan adalah hal yang irasional, gila, dan absurd.
Bukan perkara mudah untuk menulis sinopsis dari Annie Hall. Bagaimana merangkai tiap adegannya menjadi tulisan sempat membuat saya kebingungan. Tidak ada salahnya juga untuk mencari referensi. Pada dasarnya, Annie Hall dan 500 DoS memang berkisah mengenai seorang pria yang mencoba mencari tahu mengapa ia bisa putus dengan pacarnya. Dari jawaban yang didapat, semua bermuara pada sudut pandang seorang pria terhadap wanita. Tapi khusus di Annie Hall, apa yang dirasakan oleh seorang Alvy memang tidak bisa mewakili seluruh perasaan pria di dunia setelah putus dengan kekasihnya. Alvy adalah Alvy. Ia bercerita sesuai dengan apa yang ia rasakan dan lihat melalui sudut pandangnya sendiri. Hampir 95 % karakter yang dimiliki oleh Alvy ada pada diri saya. Maka dari itu, saya menganggap bahwa film Annie Hall benar-benar cocok dengan saya. [Maaf bila ulasan saya kali ini terlalu subyektif]. 

Dari segi penceritaan dan pengemasannya, bisa dibilang Annie Hall adalah film yang melampau zamannya di kala itu. Mulai teknik monolog yang digunakan Allen, penambahan subtitle sebagai ungkapan isi hati, hingga masuk dalam adegan flashback. Dari semua komedi lucu yang dihadirkan hingga ke-absurd-an adegannya membuat Annie Hall menjadi film luar biasa. Tidak bisa dipungkiri bahwa saya sempat tersenyum-senyum sendiri hingga mengumpat (maaf), ketika menyadari betapa miripnya saya dengan karakter Alvy Singer. Canggung, mudah gugup, sarkas, hingga bagaimana ‘pandangan’ saya terhadap wanita semua terlukis dengan jelas pada diri Alvy. Saya setuju ketika Allen menganggap bahwa hubungan adalah hal yang irasional, gila, dan absurd. Coba lihat bagaimana detik-detik menjelang akhir hubungan Alvy dan Annie. Tidak jarang mereka bertengkar dan berat akan egoisme masing-masing, meski mereka masih saling mencintai. Sekarang bandingkan bagaimana ketika Alvy dan Annie setelah putus. Mereka tetap bersama bahkan nampak berada di sebuah kafe sambil bercanda. Mereka terlihat sangat akrab dan dekat sekali, meski sudah tidak ada hubungan lagi di antara mereka. Jika Anda menyadari hal ‘konyol’ semacam itu juga, berarti Anda setuju dengan apa yang dikatakan Allen soal hubungan. Sungguh film yang indah dan manis.

ATAU
9,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !