Sabtu, 02 Mei 2015

THE BOOK OF LIFE [2014]


Ini semua tentang cinta. Kekuatan cinta. Sungguh hebatnya cinta, hingga mereka yang bermusuhan menjadi saling mencinta, melunakkan hati yang keras, membuat yang hidup menjadi mati, dan membuat yang mati menjadi hidup.

Dikisahkan bahwa Meksiko adalah pusat dari alam semesta. Terdapat sebuah kota kecil nan “aneh” bernama San Angel di tengah Meksiko. Di kota tersebut, dikenal sebuah perayaan Day of Death (Hari Orang Mati), hari dimana mereka mengenang orang-orang yang telah meninggal. Mereka meyakini bahwa dengan mengingat orang-orang terkasih yang telah meninggal, maka keberadaan mereka akan tetap terus bersama. Di bawah San Angel itu pula, terdapatlah alam gaib yang dihuni oleh orang-orang meninggal yang terkenang, disebut Land of The Rememberred. Dipimpin oleh La Muerte (seorang peri) yang mana adalah representasi dari sifat baik.  Sedangkan pihak oposisi adalah Land of The Forgotten yang dipimpin oleh Xibalba (representasi sifat jahat).  Ada pula sang penyeimbang bernama Candle Maker.

Tersebutlah 3 little amigos, mereka adalah Manolo, Maria, dan Joaquin. Manolo memimpikan menjadi seorang pemain gitar pro, meskipun harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya lebih memilihnya untuk menjadi matador sebagai tradisi turun temurun keluarga Sanchez.  Maria seorang putri jendral, sedangkan Joaquin putra seorang pahlawan San Angel yang telah meninggal. Seperti halnya kisah yang sudah umum ada, Manolo dan Joaquin berkompetisi untuk merebut hati Maria dengan cara mereka masing-masing. Hal tersebut kemudian menarik hati La Muerte dan Xibalba, sehingga membuat mereka berdua bertaruh siapa yang di antara Manolo dan Joaquin yang kelak akan menikahi Maria. La Muerte di pihak Manolo dan Xibalba di pihak Joaquin. Dengan berbagai tipu muslihat, Xibalba pun berhasil mengalahkan La Muerte. Kisah pun berlanjut.
Saya rasa ini bukanlah tipikal film animasi yang mudah dicerna untuk anak-anak. Pemilihan tema yang berani seperti kematian dan kisah cinta dengan level yang lebih tinggi, membuat The Book of Life terlihat lebih sesuai untuk remaja hingga dewasa. Unsur persahabatan juga menjadi bahan utama di sini. Meskipun sepanjang berjalannya cerita, kisah persahabatan yang diwarnai pengkhianatan tidak seringan pada film anak-anak seperti yang sudah ada. Tema “kematian” yang terkesan gelap, tidak sepenuhnya ditampilkan sebagai sesuatu yang bersifat ironi. Justru visualisasi colourfull nan indah dan paduan komedi, membuat The Book of Life jauh dari kesan suram. 

The Book of Life adalah salah satu film animasi terbaik di tahun 2014 kemarin, selain The Tale of The Princess Kaguya. Dibanding How to Train Your Dragon 2, Big Hero 6,  atau Song of The Sea sekalipun, The Book of Life jauh lebih bagus (dengan berbagai alasan). Tapi jangan lupa dengan peran Guillermo del Toro (Pan’s Labyrinth, Hellboy, Pacific Rim), meskipun di sini hanya sebagai produser, sepertinya del Toro turut membantu dalam menyumbangkan karakter ‘creatures’ yang selama ini menjadi trademark-nya.
ATAU
8,5 / 10

1 komentar:

AYO KITA DISKUSIKAN !